Asal Usul Danau Rayo
Asal usul Danau Rayo tidak dapat dipisahkan dari dua hal yang membentuk identitasnya: keajaiban alam yang memukau dan cerita rakyat yang sarat makna. Danau Rayo, sebuah permata hijau tersembunyi di jantung Sumatera Selatan, menawarkan lebih dari sekadar panorama. Ia adalah saksi bisu dari sebuah legenda yang dituturkan turun-temurun, sebuah dongeng pengingat akan pentingnya menghargai sesama. Destinasi wisata unggulan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ini menggabungkan kejernihan air, hutan lindung yang asri, serta kisah mistis Bujang Kurap dalam satu paket pengalaman yang tak terlupakan.
Terletak di dalam kawasan hutan lindung Desa Sungai Jernih, Kecamatan Rupit, Danau Rayo memiliki luas mencapai 100 hektare dengan kedalaman sekitar 15 meter. Kamu akan terpukau oleh kejernihan airnya yang luar biasa, memungkinkanmu melihat dasar danau dengan jelas. Suasana di sekelilingnya sangat menenangkan, dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan, kicauan beraneka burung, dan aroma khas hutan yang menyegarkan. Lokasinya yang strategis, hanya sekitar 15 menit dari pusat Kecamatan Rupit dan sekitar 80 kilometer dari Kota Lubuklinggau, membuat petualangan menuju danau ini menjadi cukup mudah dijangkau.
Namun, sejarah Danau Rayo dalam benak masyarakat lokal jauh lebih dalam daripada fakta geografisnya. Kisahnya berakar pada legenda yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Musi Rawas, Muratara, hingga Lubuklinggau. Cerita rakyat Danau Rayo yang paling terkenal adalah Legenda Bujang Kurap, yang bahkan pernah diangkat ke dalam sinetron di televisi nasional. Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah petuah hidup yang mengandung nilai moral luhur.
Asal Usul Danau Rayo dan Legenda Bujang Kurap
Kisah asal usul Danau Rayo bermula dari seorang pemuda tampan, sakti mandraguna, yang konon merupakan keturunan dari tokoh mistis Si Pahit Lidah atau bangsawan dari Minangkabau yang sedang mengembara. Pemuda ini dikenal sangat baik hati, suka menolong warga di setiap desa yang disinggahinya, mulai dari masalah pertanian hingga mengajarkan ilmu bela diri kuntau (silat). Perjalanannya akhirnya berlabuh di suatu daerah bernama Karang Panggung Lamo, yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Sungai Jernih.
Di sana, ia diangkat anak oleh seorang perempuan tua yang hidup sebatang kara. Kehidupan mereka tenang dan bahagia. Namun, ketampanan dan kebaikan hati pemuda itu menarik perhatian banyak orang. Gadis-gadis desa pun berdatangan, menimbulkan kecemburuan dan persaingan. Melihat hal ini, dengan kesaktiannya, pemuda itu memutuskan untuk mengubah penampilannya. Ia berubah menjadi seorang pemuda dengan tubuh dipenuhi kurap dan mengeluarkan bau tidak sedap. Sejak saat itulah, ia dikenal sebagai Bujang Kurap.
Perubahan drastis ini langsung mengubah perlakukan warga. Mereka yang dahulu memujinya, kini menjauh, merendahkan, bahkan menghinanya. Semua jasa dan kebaikan yang pernah ia berikan seakan terlupakan. Puncaknya terjadi saat sebuah pesta pernikahan digelar. Bujang Kurap datang untuk memberi selamat, namun ia diusir dengan hinaan. Di tengah kerumunan warga yang mengejek, ia menancapkan tujuh batang lidi ke tanah dan berkata, jika ada yang bisa mencabutnya, ia akan pergi dari desa itu.
Satu per satu pemuda dan warga terkuat mencoba, namun tak satu pun yang berhasil. Dengan tenang, Bujang Kurap mendekati lidi-lidi itu. Ia kemudian menasihati warga untuk tidak lagi menilai seseorang dari rupa luar dan tidak melupakan kebaikan orang lain. Setelah itu, dengan mudah ia mencabut ketujuh lidi tersebut. Seketika, dari lubang bekas tancapan lidi itu, memancarlah air yang sangat deras. Air terus mengucur tanpa henti, menyebabkan banjir besar yang akhirnya menenggelamkan seluruh kampung beserta warganya.
Dari bencana itulah, terbentuklah Danau Rayo yang kita kenal sekarang. Hanya ibu angkat Bujang Kurap yang selamat, karena telah disiapkan rakit yang konon menjelma menjadi batu di tengah danau. Sementara itu, Bujang Kurap menghilang, dikabarkan kembali ke wujud aslinya dan melanjutkan pengembaraan hingga ke daerah Ulak Lebar di kaki Bukit Sulap, Lubuklinggau, di mana terdapat makam tua yang dipercaya sebagai makamnya.
Informasi Tiket dan Biaya ke Danau Rayo
Kamu mungkin akan dikenakan biaya parkir kendaraan sepeda motor atau mobil, yang berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Selain itu, saat melintasi akses menuju lokasi yang dikelola oleh warga setempat, sering kali ada sumbangan wajib yang ditetapkan secara swadaya oleh masyarakat. Besarannya sekitar Rp 10.000 per orang untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Dana dari sumbangan ini sangat penting untuk perawatan jalan setapak, kebersihan area, dan kesejahteraan komunitas lokal yang menjaga kelestarian objek wisata Danau Rayo. Oleh karena itu, pastikan kamu membawa cukup uang tunai dalam pecahan kecil untuk kemudahan transaksi di lokasi yang mungkin belum memiliki fasilitas digital.
Pesona Wisata Danau Rayo yang Memikat
Terlepas dari mitos Danau Rayo, keindahan alamnya adalah fakta yang tak terbantahkan. Pemerintah daerah, baik Provinsi Sumatera Selatan maupun Kabupaten Muratara, terus berupaya mengembangkan potensi wisata danau ini. Objek wisata Muratara ini sering menjadi tujuan kegiatan besar, seperti saat penyelenggaraan MTQ tingkat provinsi.
Kamu bisa menikmati berbagai aktivitas di sini. Kejernihan airnya mengundangmu untuk sekadar duduk di pinggir danau, memancing, atau berfoto dengan latar belakang yang instagramable. Udara sejuk khas dataran tinggi dan suasana hutan lindung yang masih alami menjadikannya tempat yang sempurna untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kota. Keunikan lain dari kawasan ini adalah keberadaan Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba yang hidup secara harmonis di sekitar Desa Sungai Jernih, menambah kekayaan budaya dari destinasi ini.
Cara Menuju ke Lokasi Danau Rayo
Akses menuju Danau Rayo di Sumsel terbilang mudah. Jika kamu berangkat dari Kota Lubuklinggau, tempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 80 kilometer menuju Kecamatan Rupit, ibukota Muratara. Dari pusat Kecamatan Rupit, perjalanan dilanjutkan ke Desa Sungai Jernih dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Pastikan untuk mempersiapkan fisik dan kendaraanmu karena sebagian jalannya berada di area perbukitan dan hutan.
Jadi, apa yang kamu tunggu? Rencanakan perjalananmu ke destinasi wisata Sumsel yang satu ini. Buktikan sendiri kejernihan airnya, rasakan kedamaian di sekelilingnya, dan resapi pelajaran berharga dari Legenda Bujang Kurap. Jangan lupa untuk membagikan pengalaman seru milikmu di media sosial dan mengajak teman-temanmu untuk turut melestarikan keindahan alam serta cerita rakyat Nusantara.
Baca juga:
- Pantai Nyanyi: Lokasi, Rute, Harga Tiket, dan Daya Tarik
- Goa Tiangko: Rute, Daya Tarik, dan Tips
- Pesona Keindahan Wisata Pantai di Jambi
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ) tentang Danau Rayo
1. Bagaimana cara menuju Danau Rayo?
Kamu dapat menuju pusat kabupaten di Rupit terlebih dahulu. Dari Rupit, lanjutkan perjalanan sekitar 10 km ke Desa Sungai Jernih. Dari Kota Lubuk Linggau, jaraknya sekitar 80 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau bus.
2. Apakah ada fasilitas penginapan di sekitar Danau Rayo?
Fasilitas penginapan masih terbatas. Biasanya wisatawan menginap di Rupit atau kembali ke Lubuk Linggau. Disarankan untuk menanyakan informasi terkini kepada pemandu atau dinas pariwisata setempat.
Referensi
- https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Rayo
- https://giwang.sumselprov.go.id/destination/detail/439




