7 Fakta Ilmiah Tanaman Lidah Mertua: Manfaat, Cara Merawat, dan Bahayanya

Tanaman Lidah Mertua

Tanaman Lidah Mertua

Tanaman lidah mertua menjadi salah satu tanaman hias paling populer di Indonesia karena keindahan bentuknya, perawatan mudah, dan kemampuan alami membersihkan udara. Kamu mungkin sering menjumpainya di rumah, kantor, atau bahkan tepi jalan sebagai penghias ruangan. Tanaman dengan nama ilmiah Sansevieria trifasciata (kini direklasifikasi menjadi Dracaena trifasciata) berasal dari Afrika Barat tropis dan telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Popularitas tanaman lidah mertua tidak lepas dari daya tahan luar biasa terhadap berbagai kondisi pertumbuhan, mulai dari minim cahaya hingga keterbatasan air. Mari kamu telusuri lebih dalam tentang tanaman serbaguna ini, mulai dari klasifikasi ilmiah, manfaat kesehatan, cara budi daya, hingga mitos yang menyertainya.

Klasifikasi Ilmiah dan Asal Usul Tanaman Lidah Mertua

Tanaman lidah mertua tergolong dalam famili Asparagaceae dan sebelumnya dikenal dengan genus Sansevieria. Sejak tahun 2017, taksonomi tanaman ini secara resmi berpindah ke genus Dracaena, sehingga nama ilmiahnya menjadi Dracaena trifasciata. Meski demikian, banyak kalangan di Indonesia tetap akrab dengan sebutan Sansevieria.

Tanaman ini berasal dari kawasan Afrika Barat tropis, membentang dari Nigeria hingga Kongo. Dari sana, tanaman lidah mertua menyebar ke berbagai belahan dunia karena keindahan dan ketangguhannya. Di Indonesia sendiri, tanaman ini telah lama dibudidayakan dan menjadi favorit para pecinta tanaman hias.

Nama “lidah mertua” muncul karena bentuk daunnya yang panjang, kaku, dan meruncing di ujung, menyerupai lidah. Sementara itu, sebutan “tanaman ular” muncul karena tekstur daunnya yang mirip kulit ular dengan corak garis-garis melintang.

Ciri Morfologi Tanaman Lidah Mertua

Memahami ciri fisik tanaman lidah mertua membantumu merawatnya dengan lebih tepat. Berikut adalah karakteristik morfologis utama yang membedakannya dari tanaman hias lain.

Bagian TanamanCiri-ciri
DaunBerbentuk pedang, tegak, kaku, berdaging tebal; panjang 40–175 cm, lebar 2,5–9 cm
Warna DaunHijau tua dengan pita melintang hijau abu-abu muda; beberapa kultivar memiliki tepi kuning
AkarSerabut, berwarna putih, tumbuh dangkal di dalam pot
RimpangMenjalar horizontal, kadang di atas atau di bawah permukaan tanah
BungaBerbentuk lonceng, kecil, putih kehijauan, beraroma pada malam hari; muncul di ujung tangkai tegak
BuahBerry bulat, oranye terang; pembentukan biji sangat jarang terjadi secara alami

Tanaman ini membentuk rumpun padat dengan tinggi bervariasi, mulai dari 15 cm hingga lebih dari 1 meter tergantung varietasnya. Daun tumbuh dari roset basal dan tersusun saling bersilangan. Keunikan lain terletak pada mekanisme fotosintesisnya yang menggunakan Crassulacean Acid Metabolism (CAM), memungkinkan stomata hanya terbuka pada malam hari untuk mencegah penguapan air.

Manfaat Tanaman Lidah Mertua bagi Kesehatan dan Lingkungan

Tanaman lidah mertua menawarkan beragam manfaat yang membuatnya layak kamu pertimbangkan sebagai penghuni ruangan. Penelitian ilmiah telah mengungkap berbagai khasiat tanaman ini, mulai dari pembersih udara hingga potensi pengobatan.

1. Pembersih Udara Alami

Tanaman lidah mertua mampu menyerap berbagai polutan berbahaya di udara. Studi NASA Clean Air Study menemukan bahwa tanaman ini berpotensi menyaring empat dari lima racun utama penyebab sick building syndrome. Penelitian di Indonesia juga menunjukkan kemampuan Sansevieria dalam menurunkan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO2) di ruangan. Dengan waktu kontak 6 jam, Sansevieria trifasciata mampu menurunkan CO hingga 83,88% dan SO2 hingga 65,52%.

2. Produksi Oksigen pada Malam Hari

Melalui metabolisme CAM, Sansevieria trifasciata menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen pada malam hari. Karakteristik unik ini menjadikannya ideal kamu tempatkan di kamar tidur untuk membantu meningkatkan kualitas udara saat kamu beristirahat.

3. Potensi Antidiabetes

Penelitian ilmiah mengungkap bahwa ekstrak daun lidah mertua mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, glikosida, alkaloid, dan steroid yang memiliki aktivitas antidiabetes. Ekstrak etanol 70% dari daun tanaman ini menunjukkan penghambatan enzim α-glucosidase sebesar 90,72%, sehingga berpotensi menjadi agen alternatif pengobatan diabetes melitus.

4. Aktivitas Antibakteri

Studi terbaru menemukan bahwa senyawa aktif dari Sansevieria trifasciata memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hal ini mendukung penggunaan tradisional Sansevieria trifasciata dalam pengobatan berbagai infeksi.

5. Simbol Keberuntungan dan Perlindungan

Dalam berbagai budaya, masyarakat mempercayai Sansevieria trifasciata membawa keberuntungan, kesejahteraan, dan perlindungan. Di Afrika, kultivar dengan tepi kuning dikaitkan dengan Oya, dewi badai, sementara di Nigeria tanaman ini digunakan dalam ritual untuk menangkal pengaruh buruk. Di Brasil, tanaman ini dikenal sebagai espada de São Jorge dan masyarakat menanamnya di luar rumah untuk menangkal kejahatan.

Cara Merawat Tanaman Lidah Mertua dengan Benar

Merawat tanaman lidah mertua terbilang mudah, tetapi tetap memerlukan perhatian pada beberapa aspek agar tumbuh optimal. Berikut panduan praktis yang bisa kamu ikuti.

1. Penyiraman yang Tepat

Tanaman lidah mertua hanya membutuhkan sedikit air. Cukup berikan sekitar 26 ml air per tanaman setiap minggu, dan tanaman ini bahkan dapat bertahan tanpa disiram selama 15 hari. Pastikan pot memiliki drainase baik untuk mencegah genangan air yang dapat menyebabkan akar membusuk. Di musim kemarau, penyiraman 2–3 hari sekali sudah cukup.

2. Pencahayaan Ideal

Sansevieria dapat tumbuh di tempat minim cahaya, tetapi pertumbuhannya lebih optimal jika kamu letakkan di lokasi dengan pencahayaan tidak langsung. Tanaman ini toleran terhadap berbagai kondisi cahaya, mulai dari area terbuka hingga teduh di bawah kanopi.

3. Media Tanam dan Pemupukan

Gunakan campuran pasir, tanah, pupuk organik, dan bahan organik seperti arang sekam atau cocopeat dengan perbandingan 2:1:1:1. Pemupukan cukup kamu lakukan setiap 3–4 bulan sekali menggunakan pupuk slow-release. Tanaman lidah mertua tumbuh baik pada pH tanah 5,5–7,0.

4. Perbanyakan Tanaman

Kamu dapat memperbanyak tanaman lidah mertua melalui beberapa metode. Pemisahan anakan menjadi cara paling umum, dilakukan ketika anakan telah berusia 2–4 bulan. Stek daun juga efektif, dengan memotong daun sehat sepanjang 7,5–10 cm lalu menanamnya hingga berakar. Perlu diingat bahwa perbanyakan stek daun pada kultivar variegata akan menghilangkan pola warna khasnya.

5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang sering menyerang tanaman lidah mertua meliputi ulat, belalang, siput, dan thrips. Penyakit yang muncul umumnya busuk lunak, busuk akar, dan bercak daun. Jaga sanitasi lingkungan dan lakukan pemupukan berimbang sebagai tindakan preventif. Penyemprotan fungisida atau bakterisida hanya kamu perlukan jika serangan sudah parah.

Bahaya dan Toksisitas Tanaman Lidah Mertua

Meskipun bermanfaat, tanaman lidah mertua memiliki sisi lain yang perlu kamu waspadai. Tanaman ini mengandung saponin yang bersifat toksik bagi hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Jika tertelan, hewan dapat mengalami mual, muntah, dan diare.

Bagi manusia, getah tanaman dapat menyebabkan iritasi kulit ringan pada individu sensitif. Menelan bagian tanaman dalam jumlah signifikan dapat menimbulkan gangguan pencernaan. Oleh karena itu, jauhkan tanaman lidah mertua dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan, serta gunakan sarung tangan saat menanganinya.

Fakta Ilmiah dan Mitos Seputar Kemampuan Membersihkan Udara

Klaim bahwa tanaman lidah mertua mampu membersihkan udara sering muncul di berbagai sumber. Fakta ilmiahnya, tanaman ini memang memiliki kemampuan menyerap polutan, tetapi kamu perlu memahami efeknya dalam konteks yang tepat.

Studi NASA tahun 1989 memang menemukan potensi Sansevieria dalam menyaring udara. Namun, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa jumlah tanaman yang dibutuhkan untuk memberikan efek signifikan terhadap kualitas udara dalam ruangan sangat banyak dibandingkan kondisi rumah pada umumnya. Artinya, tanaman lidah mertua tetap berkontribusi positif, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi ventilasi yang baik.

Kunci utama kualitas udara dalam ruangan tetap terletak pada sirkulasi udara, kebersihan ruangan, dan pengelolaan sumber polutan. Tanaman lidah mertua berperan sebagai pelengkap, bukan solusi tunggal.

Tanaman lidah mertua adalah bukti nyata bahwa keindahan dan fungsi dapat berjalan beriringan. Dari kemampuannya bertahan di kondisi minim perawatan hingga potensi ilmiah yang terus diungkap, tanaman ini menawarkan lebih dari sekadar estetika. Bagikan artikel ini kepada teman atau keluargamu yang sedang mencari tanaman hias yang mudah dirawat namun kaya manfaat. Jangan ragu untuk mulai menanam lidah mertua di rumahmu hari ini—sebuah langkah kecil menuju ruang hidup yang lebih hijau dan sehat.

Baca juga:

FAQ

1. Apakah tanaman lidah mertua aman untuk diletakkan di kamar tidur?

Ya, tanaman ini aman dan bahkan bermanfaat. Melalui metabolisme CAM, lidah mertua menyerap CO2 dan melepaskan oksigen pada malam hari, membantu meningkatkan kualitas udara saat tidur.

2. Berapa sering tanaman lidah mertua perlu disiram?

Cukup 2–3 hari sekali pada musim kemarau, atau sekitar 26 ml per tanaman setiap minggu. Tanaman ini dapat bertahan tanpa air selama 15 hari.

3. Apakah tanaman lidah mertua berbahaya bagi kucing dan anjing?

Ya, tanaman ini mengandung saponin yang toksik bagi kucing dan anjing. Jika tertelan, hewan dapat mengalami mual, muntah, dan diare. Segera hubungi dokter hewan jika hewan peliharaanmu menunjukkan gejala keracunan.

4. Bagaimana cara memperbanyak tanaman lidah mertua?

Kamu dapat memperbanyaknya melalui pemisahan anakan, stek daun, cacah daun, atau setek rimpang. Pemisahan anakan menjadi metode paling umum dan mudah dilakukan.

5. Apakah tanaman lidah mertua benar-benar bisa membersihkan udara?

Tanaman ini memang memiliki kemampuan menyerap polutan seperti formaldehida dan benzena, tetapi efeknya terbatas untuk ruangan tertutup. Ventilasi yang baik tetap menjadi faktor utama kualitas udara dalam ruangan.

Referensi

  1. Adeniyi, A. G., Adeoye, S. A., & Ighalo, J. O. (2020). Sansevieria trifasciata fibre and composites: A review of recent developments. International Polymer Processing, *35*(4), 344–354. https://doi.org/10.3139/217.3914
  2. Nurwaini, S., & Saputri, I. D. (2018). Pengujian sifat fisik dan aktivitas antibakteri sediaan gel hand sanitizer ekstrak daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain). Talenta Conference Series: Tropical Medicine, *1*(3), 075–085. https://doi.org/10.32734/tm.v1i3.266
  3. Pramono, S. (2008). Pesona Sansevieria. AgroMedia Pustaka. https://perpustakaan.jakarta.go.id/book/detail?cn=INLIS000000000796946
  4. Wolverton, B. C. (1989). A study of interior landscape plants for indoor air pollution abatement (NASA Technical Document 19930072988). National Aeronautics and Space Administration. https://archive.org/details/nasa_techdoc_19930072988
  5. Mieu, D. J. (n.d.). Penetapan kadar saponin pada ekstrak daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain varietas S. Laurentii) secara gravimetri. Politeknik Kesehatan Jakarta III. https://www.poltekkesjakarta3.ac.id/ejurnalnew/index.php/jitek/article/download/86/66
  6. National Center for Biotechnology Information. (2021). Sansevieria trifasciata (snake plant). PubChem Taxonomy. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/taxonomy/Sansevieria-trifasciata
  7. Mabberley, D. J. (2017). Mabberley’s plant-book (4th ed.). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781316335581 
Scroll to Top