Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, telah lama menjadi sorotan dunia bukan hanya karena keindahan arsitekturnya, melainkan juga karena kemampuannya merawat kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Desa adat ini menawarkan pengalaman autentik tentang bagaimana masyarakat Bali menjalani keseharian mereka dengan berpegang teguh pada filosofi leluhur. Saat kamu melangkahkan kaki memasuki gerbang desa, kamu tidak hanya menyaksikan pemandangan yang asri, tetapi juga merasakan denyut kehidupan komunitas yang sukses membangun pariwisata berkelanjutan tanpa mengorbankan jati diri mereka.
Filosofi Tri Hita Karana dalam Penataan Ruang
Keunikan paling menonjol dari Desa Wisata Penglipuran terletak pada penataan ruangnya yang mengadopsi konsep Tri Mandala. Konsep ini merupakan aplikasi nyata dari filosofi Tri Hita Karana yang mengajarkan keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia, dan lingkungan . Desa seluas 112 hektare ini membagi wilayahnya menjadi tiga zona dengan tingkat kesucian berbeda. Di bagian utara atau Utama Mandala, kamu akan menemukan Pura Puseh dan Pura Bale Agung sebagai tempat masyarakat berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Madya Mandala di bagian tengah merupakan kawasan pemukiman warga yang tertata rapi. Sementara Nista Mandala di selatan menjadi area kuburan yang dianggap kurang sakral.
Apa yang membuat kawasan ini begitu istimewa? Sepanjang jalan utama selebar empat meter, kamu akan menjumpai deretan angkul-angkul atau pintu gerbang rumah yang seragam dan simetris. Setiap pekarangan atau unit rumah warga ternyata juga menerapkan konsep Tri Mandala yang sama. Di halaman depan, keluarga memiliki sanggah atau pura keluarga untuk memuja leluhur. Bagian tengah digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti dapur dan kamar tidur. Sementara bagian belakang dimanfaatkan untuk menjemur pakaian atau kandang ternak.
Sejarah Panjang di Balik Nama Penglipuran
Kamu mungkin bertanya-tanya, dari mana asal-usul nama desa yang unik ini? Masyarakat setempat meyakini dua versi berbeda. Versi pertama menyebutkan bahwa Penglipuran berasal dari kata pengeling pura yang berarti ‘mengingat tempat suci leluhur’. Versi kedua mengatakan bahwa nama ini berasal dari kata pelipur lara yang berarti ‘penghibur duka’ . Raja Bangli konon sering mengunjungi daerah ini untuk bermeditasi dan melepaskan penat dari hiruk-pikuk kerajaan.
Sejarah mencatat bahwa mayoritas penduduk desa berasal dari Desa Bayung Gede di Kecamatan Kintamani. Pada masa kerajaan, orang-orang Bayung Gede yang ahli dalam kegiatan agama dan pertahanan sering dipanggil bertugas ke Kerajaan Bangli. Karena jarak yang jauh, kerajaan memberikan tempat peristirahatan yang disebut Kubu Bayung. Tempat inilah yang kemudian berkembang menjadi Desa Adat Penglipuran yang kita kenal sekarang.
Daya Tarik Wisata dan Penghargaan Dunia
Desa Terbersih di Dunia—julukan ini bukanlah sekadar gimik promosi. Pada tahun 2016, UNESCO menobatkan Penglipuran sebagai salah satu desa terbersih di dunia bersama dengan Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India. Penghargaan ini membawa konsekuensi luar biasa: jumlah kunjungan wisatawan melonjak drastis dari kurang dari 50 ribu pada tahun 2015 menjadi hampir satu juta wisatawan pada tahun 2023.
Peningkatan kunjungan ini bukannya tanpa tantangan. Pemerintah daerah menargetkan retribusi sebesar Rp29,1 miliar dari desa ini pada tahun 2025—angka tertinggi dibanding empat objek wisata lain di Bangli . Akademisi dari IPB University bahkan telah diminta membantu menganalisis daya dukung fisik desa karena kekhawatiran terhadap over carrying capacity yang dapat mengancam kelestarian lingkungan.
Selain kebersihan dan tata ruangnya, hutan bambu seluas 45 hektare menjadi daya tarik tersendiri. Pada tahun 1995, desa ini meraih penghargaan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia atas keberhasilan mereka melindungi ekosistem bambu lokal. Masyarakat percaya bahwa hutan bambu ini tidak tumbuh sendiri, melainkan ditanam oleh para pendahulu mereka sebagai simbol akar sejarah.
Tradisi dan Aturan Adat yang Masih Berlaku
Masyarakat Desa Adat Penglipuran hidup dengan dua jenis hukum yang mereka taati, yaitu Awig-awig (peraturan tertulis) dan Drestha (adat kebiasaan tak tertulis). Aturan-aturan ini mengatur hampir seluruh sendi kehidupan, mulai dari kewajiban beribadah di pura hingga larangan poligami.
Uniknya, Desa Penglipuran memiliki aturan monogami yang ketat. Jika seorang laki-laki terbukti memiliki istri lebih dari satu, ia dan keluarganya harus pindah ke Karang Memadu, area khusus di dalam desa yang bukan bagian dari pemukiman utama. Hak dan kewajibannya sebagai warga desa adat pun akan dicabut. Mereka tidak boleh melewati jalanan umum atau memasuki pura untuk mengikuti kegiatan adat.
Ada pula hukuman sosial bagi pencuri yang sangat efektif menciptakan efek jera. Jika ketahuan mencuri, seseorang diwajibkan memberikan sesajen lima ekor ayam dengan warna bulu berbeda di empat pura leluhur. Dengan cara ini, seluruh penduduk desa akan mengetahui siapa pelakunya dan ia harus menanggung malu di hadapan komunitas.
Berbeda dengan masyarakat Hindu Bali pada umumnya, warga Penglipuran tidak mengenal upacara pembakaran mayat atau Ngaben. Jenazah langsung dikuburkan sesuai dengan tradisi yang diwariskan leluhur mereka.
Kuliner dan Pengalaman Wisata
Setelah puas berkeliling menyaksikan keindahan arsitektur dan keramahan warga, jangan lewatkan kesempatan mencicipi kuliner khas setempat. Loloh Cemcem menjadi minuman ikonik yang wajib kamu coba. Minuman ini terbuat dari daun cemcem atau kloncing yang diolah dengan bumbu tradisional, menyegarkan dahaga setelah berjalan-jalan di tengah udara sejuk pegunungan.
Untuk mengisi perut, Tipat Cantok adalah pilihan tepat. Hidangan berisi ketupat dan sayur rebus ini disiram bumbu kacang khas yang gurih. Kamu bisa menikmatinya di rumah-rumah warga yang membuka warung kecil atau di area kuliner yang telah disediakan pengelola desa.
Bagi kamu yang ingin merasakan pengalaman lebih mendalam, Desa Penglipuran juga menyediakan fasilitas homestay. Menginap di rumah warga akan memberimu kesempatan melihat langsung keseharian masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kekerabatan . Suasana malam yang tenang tanpa kendaraan bermotor menciptakan pengalaman spiritual yang sulit kamu lupakan.
Pelestarian Budaya di Era Modern
Pertanyaan besar yang sering muncul, bagaimana desa ini mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi? Jawabannya terletak pada kesadaran kolektif warga. Mereka tidak memandang adat sebagai beban, melainkan sebagai identitas yang membanggakan. Penelitian menunjukkan bahwa Desa Adat Penglipuran sangat menjunjung dan melestarikan nilai-nilai yang diturunkan leluhur, bahkan di era modern ini.
Wujud nyata pelestarian ini terlihat dari keseragaman bangunan. Setiap rumah memiliki bentuk dan motif yang sama sejak dulu. Tidak ada satu pun warga yang berani mengubah arsitektur rumahnya seenaknya karena mereka paham bahwa keunikan desa justru terletak pada keseragaman yang harmonis tersebut.
Berbagai ritual adat dan keagamaan masih rutin dilaksanakan. Upacara Ngusaba Paruman misalnya, digelar setiap purnama kapat sebagai persembahan untuk Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Ada pula Penglipuran Village Festival yang biasa diselenggarakan pada akhir tahun dengan parade pakaian adat, barong ngelawang, dan berbagai atraksi seni budaya lainnya.
Kini giliranmu untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman yang juga tertarik dengan kearifan lokal Nusantara. Dengan menyebarkan cerita tentang Desa Penglipuran, kamu turut berkontribusi dalam mengapresiasi upaya masyarakat Bali dalam menjaga warisan leluhur mereka. Ingatlah, desa ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang hidup di mana masa lalu dan masa depan berjabat tangan dalam harmoni yang sempurna. (BAMS)
Baca juga:
- Menjelajahi Nusa Penida dari Daya Tarik, Sejarah, dan Cara ke Lokasi
- Pesona Taman Nasional Wakatobi, Surga Bawah Laut Warisan Dunia
- Sejarah Jembatan Gentala Arasy Jambi dan Keistimewaannya
- Pura Tanah Lot: Destinasi Wisata Bali dengan Sejarah Spiritual
Referensi
- https://id.wikipedia.org/wiki/Desa_Penglipuran
- Nugroho, T., Sunarta, I. N., Nofiasari, W., & Gian Saputra, I. G. (2025). Cognition and Governance in Advancing Regenerative Tourism: The Case of Penglipuran Village, Bali. Journal of Business and Social Sciences, 2025(2). https://doi.org/10.61453/jobss.v2025no30
- Jayanegara, K., Sukarsa, K. G., & Kencana, E. N. (2024). Valuasi Desa Wisata Penglipuran: Sebuah Pendekatan Kuantitatif Menggunakan Contingent Valuation Method. Jurnal Matematika, 14(2), 140-149. https://doi.org/10.24843/JMAT.2024.v14.i02.p178
- Rachmawati, D., & Fitriyani, L. R. (2024). Community Participation in Developing Penglipuran Village in Bali as Tourism Village. Humaniora, 15(1), 1-10. https://doi.org/10.21512/humaniora.v15i1.11007
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Di mana lokasi tepatnya Desa Penglipuran dan bagaimana cara menuju ke sana?
Desa Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali . Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat kota Bangli atau 45 kilometer dari Kota Denpasar. Kamu bisa mencapai desa ini dengan kendaraan pribadi atau menyewa mobil beserta sopir. Banyak agen perjalanan juga menyediakan paket tur khusus ke desa ini.
2. Apa saja penghargaan internasional yang pernah diraih desa ini?
Desa Penglipuran telah mengantongi sejumlah penghargaan bergengsi. Pada tahun 1995 meraih Kalpataru dari pemerintah Indonesia. Tahun 2016 dinobatkan sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia oleh UNESCO. Desa ini juga menerima Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) dan masuk dalam daftar Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.
3. Apakah kendaraan bermotor diperbolehkan masuk ke area pemukiman?
Tidak. Desa ini menerapkan aturan ketat larangan kendaraan bermotor masuk ke kompleks perumahan tradisional. Bahkan sepeda motor pun tidak diizinkan melintas di jalan utama desa. Pengelola telah menyediakan area parkir khusus untuk mobil dan bus pariwisata di pintu masuk.
4. Apa makna filosofis di balik keseragaman arsitektur rumah warga?
Keseragaman arsitektur mencerminkan penerapan filosofi Tri Hita Karana, khususnya aspek Pawongan yang mengatur hubungan harmonis antar sesama manusia. Dengan memiliki bentuk rumah yang serupa, tidak ada kecemburuan sosial antar warga. Mereka juga memanfaatkan bambu sebagai bahan utama bangunan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam (Palemahan).
5. Kapan waktu terbaik mengunjungi Desa Penglipuran?
Desa ini dapat dikunjungi sepanjang tahun karena cuacanya yang sejuk dengan suhu berkisar 16-29 derajat Celsius . Jika kamu ingin menyaksikan kemeriahan tradisi, datanglah pada akhir tahun saat Penglipuran Village Festival berlangsung. Saat itu kamu bisa menikmati parade pakaian adat, tarian tradisional, dan berbagai atraksi seni budaya lainnya.










