Jembatan Ampera
Sumatera

Jembatan Ampera: Sejarah, Arsitektur, dan Daya Tarik

Jembatan Ampera terletak di tengah kota, jembatan ini menghubungkan dua daerah utama, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir, yang terpisah oleh sungai Musi, jembatan ini bukan hanya jalur transportasi vital, tetapi juga merupakan lambang sejarah dan kebanggaan bagi masyarakat Palembang.

Jembatan Ampera

Berikut informasi terkait Jembatan Ampera.

Sejarah yang Kaya dan Bermakna

Jembatan Ampera
Sumber Gambar: Facebook Bambang Niko Pasla

Jembatan Ampera memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak zaman Gemeente Palembang pada tahun 1906. Namun, usaha untuk membangun jembatan yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir di Kota Palembang mengalami banyak hambatan.

Pada tahun 1924, saat Wali kota Le Cocq de Ville memimpin Kota Palembang, gagasan membangun jembatan tersebut muncul kembali, tetapi tetap tidak terealisasi. Bahkan ketika Belanda meninggalkan Indonesia, proyek ini belum pernah terwujud.

Setelah kemerdekaan Indonesia, usaha untuk membangun jembatan tersebut kembali muncul. Pada tahun 1957, DPRD Peralihan Kota Besar Palembang mengusulkan pembangunan jembatan yang disebut “Jembatan Musi,” merujuk pada Sungai Musi yang akan dilintasinya. Usulan ini dianggap berani mengingat anggaran yang tersedia sangat terbatas, hanya sekitar Rp 30.000,00.

Sebuah panitia pembangunan dibentuk pada tahun yang sama, terdiri dari berbagai pihak, termasuk Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, Gubernur Sumatera Selatan H.A. Bastari, Wali kota Palembang M. Ali Amin, dan Indra Caya. Mereka mendekati Presiden Soekarno untuk mendapatkan dukungan.

Usaha yang melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Kota Palembang, dan dukungan penuh dari Kodam IV/Sriwijaya akhirnya membuahkan hasil. Presiden Soekarno akhirnya menyetujui usulan pembangunan jembatan ini, dengan syarat bahwa dua ujung jembatan akan dihiasi dengan boulevard atau taman terbuka. Kontrak pembangunan ditandatangani pada tanggal 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000.

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962 setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Dana untuk pembangunan berasal dari dana pampasan perang Jepang, dan proyek ini melibatkan tenaga ahli dari Jepang.. Awalnya, jembatan ini dinamai “Jembatan Bung Karno” sebagai penghormatan kepada Presiden Soekarno.

Peresmian pemakaian jembatan ini dilakukan pada tahun 1965, dan pada saat itu, Jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Namun, pada tahun 1966, saat terjadi pergolakan politik dan gerakan anti-Soekarno yang sangat kuat, nama jembatan ini diubah menjadi “Jembatan Ampera” (Amanat Penderitaan Rakyat).

Baca juga: Selokan Van Der Wijck: Sejarah, Fungsi, dan Kearifan Lokal

Arsitektur Jembatan Ampera

Jembatan Ampera
Sumber Gambar: Facebook Bambang Niko Pasla

Jembatan Ampera bukan hanya simbol sejarah dan kebanggaan, tetapi juga merupakan sebuah keajaiban teknik dan arsitektur. Struktur jembatan ini mengesankan dalam segala aspeknya.

  • Panjang: 1,117 meter
  • Lebar: 22 meter (bagian tengah selebar 71,90 meter)
  • Berat: 944 ton
  • Dilengkapi pembandul seberat 500 ton
  • Ketinggian: 11.5 meter di atas permukaan air
  • Tinggi menara: 63 meter dari permukaan tanah
  • Jarak antara menara: 75 meter

Salah satu fitur teknis yang paling mencolok dari Jembatan Ampera adalah kemampuannya untuk mengangkat bagian tengah jembatan. Pada awalnya, bagian tengah, bagian depan, dan bagian belakang jembatan ini dapat diangkat ke atas untuk memungkinkan kapal besar melewati di bawahnya tanpa kendala. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis yang ditenagai oleh dua bandul pemberat, masing-masing sekitar 500 ton, yang terletak di dua menara. Kecepatan pengangkatan sekitar 10 meter per menit, dan waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan adalah sekitar 30 menit.

Ketika bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan lebar hingga 60 meter dan tinggi maksimum 44,50 meter dapat lewat mengarungi Sungai Musi. Tanpa pengangkatan, tinggi kapal maksimum yang dapat melewati di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai. Keajaiban teknik ini menjadi contoh prestasi luar biasa dalam rekayasa jembatan.

Namun, pada tahun 1970, pengangkatan bagian tengah jembatan ini tidak lagi dilakukan. Alasannya adalah waktu yang diperlukan untuk mengangkat jembatan tersebut dianggap mengganggu lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari potensi bahaya jatuhnya beban tersebut.

Baca juga: Candi Gumpung: Lokasi, Sejarah dan Temuan Arkeologi

Daya Tarik Jembatan Ampera

Sumber Gambar: Facebook Bambang Niko Pasla

Jembatan Ampera juga menawarkan pemandangan yang mengesankan. Saat malam tiba, jembatan ini diterangi oleh lampu-lampu yang cemerlang, menciptakan pemandangan yang memukau di atas sungai Musi. Pemandangan ini tidak hanya mempesona bagi penduduk Palembang, tetapi juga bagi wisatawan yang datang mengunjungi kota ini.

Pemandangan dari menara (tower) Jembatan Ampera juga merupakan salah satu yang paling menarik di Palembang. Dari ketinggian menara, Anda dapat melihat keindahan sungai Musi, kota Palembang, dan sekitarnya. Menara jembatan ini adalah tempat yang ideal untuk menikmati pemandangan panoramik kota dan merasakan keelokan alam yang melingkupinya.

Seiring berjalannya waktu, Jembatan Ampera akan terus menyatu dengan identitas Palembang, mengingatkan kita akan semangat perjuangan dan pengorbanan yang membentuk Indonesia modern. Jembatan ini merupakan bukti nyata bahwa jalan menuju masa depan yang lebih baik seringkali dibangun di atas pondasi sejarah yang kuat, dan Jembatan Ampera akan terus menjadi lambang kekuatan dan kebanggaan Palembang.

Referensi

  1. Putri, Z., Aryanti, N., Syarifuddin, S., & Irwanto, D. (2022). Sejarah Jembatan Ampera sebagai Ikon Kota Palembang. Historia Madania: Jurnal Ilmu Sejarah6(2), 139-146.
  2. Sholeh, K., & Nindiati, D. S. (2018). Eksistensi Jembatan Ampera Terhadap Perkembangan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat Ulu Palembang Tahun 1950-2010. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah6(2), 273-294.
  3. https://palembang.go.id/charming/jembatan-ampera