Cara Menanam Lidah Mertua dari Stek Daun hingga Perawatan Harian

Cara Menanam Lidah Mertua

Cara Menanam Lidah Mertua

Cara menanam lidah mertua (Dracaena trifasciata) sebenarnya sangat mudah, bahkan untuk kamu yang tidak memiliki pengalaman berkebun sekalipun. Tanaman dengan nama populer snake plant atau sansevieria ini menjadi salah satu tanaman hias paling tangguh yang mampu bertahan di berbagai kondisi lingkungan. Menariknya, lidah mertua tidak hanya berfungsi sebagai penghias ruangan, tetapi juga memiliki kemampuan ilmiah dalam menyerap polutan udara berbahaya hingga 46 persen, termasuk karbon monoksida, benzene, dan formaldehyde melalui sel-sel daunnya.

Studi dari NASA bahkan mengungkapkan bahwa tanaman lidah mertua dapat menyerap 107 jenis polutan di daerah dengan lalu lintas padat dan ruangan penuh asap rokok. Kandungan senyawa aktif seperti polifenol, steroid, dan alkaloid pada daun lidah mertua juga terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dengan segudang manfaat tersebut, tidak heran jika tanaman lidah mertua menjadi primadona bagi penghuni rumah di kawasan perkotaan yang sering menghadapi masalah polusi udara.

Mengapa Memilih Lidah Mertua sebagai Tanaman Hias?

Penting bagi kamu memahami alasan ilmiah mengapa tanaman lidah mertua layak menjadi pilihan utama. Sansevieria merupakan tanaman sukulen abadi yang berasal dari Nigeria hingga Afrika Tropis. Tanaman ini termasuk dalam keluarga Asparagaceae dan memiliki kemampuan adaptasi luar biasa terhadap kondisi lingkungan yang beragam.

Keunggulan utama lidah mertua terletak pada sifatnya yang drought-tolerant atau toleran terhadap kekeringan. Tanaman ini menyimpan cadangan air pada daunnya yang tebal dan berdaging, sehingga mampu bertahan hidup meski jarang disiram. Karakteristik ini menjadikannya tanaman yang sangat cocok untuk kamu yang sibuk atau sering bepergian.

Selain itu, lidah mertua juga tergolong tanaman slow-growing atau tumbuh lambat, dengan waktu mencapai kematangan sekitar 5 hingga 10 tahun. Pertumbuhan yang lambat justru menguntungkan karena tanaman tidak memerlukan repotting atau penggantian pot terlalu sering. Kamu cukup melakukan repotting setiap lima tahun sekali atau ketika tanaman sudah terlalu penuh.

Klasifikasi dan Karakteristik Lidah Mertua

Sebelum memulai proses penanaman, kamu perlu mengenali karakteristik botani tanaman lidah mertua. Pemahaman ini akan membantu kamu memberikan perawatan yang tepat sesuai kebutuhan alami tanaman.

AspekKeterangan
Nama IlmiahDracaena trifasciata (sinonim: Sansevieria trifasciata)
Nama UmumLidah mertua, snake plant, mother-in-law’s tongue, spear plant
KeluargaAsparagaceae
Tipe PertumbuhanSukulen abadi, membentuk rumpun
Tinggi Maksimal1 – 1,5 meter
Preferensi CahayaCahaya terang tidak langsung hingga semi-teduh
Kebutuhan AirRendah, lebih baik kurang air daripada berlebihan
Media TanamBerpasir atau lempung dengan drainase baik
pH TanahNetral hingga basa
Zona KetahananUSDA 10-11 (tidak tahan embun beku)

Daun lidah mertua memiliki tekstur leathery atau seperti kulit, tebal, dan berbentuk pedang dengan ujung meruncing. Warna daun bervariasi, mulai dari hijau tua dengan pita abu-abu keperakan, hijau muda, hingga kombinasi kuning keemasan. Beberapa varietas populer di Indonesia antara lain ‘Golden Hahnii’ dengan bentuk mini, ‘Laurentii’ dengan tepi daun kuning, serta ‘Moonshine’ yang memiliki daun hijau keperakan.

Perlu kamu ketahui bahwa seluruh bagian tanaman lidah mertua mengandung saponin dan bersifat beracun bagi manusia, anjing, dan kucing jika tertelan. Oleh karena itu, tempatkan tanaman di lokasi yang tidak terjangkau anak-anak dan hewan peliharaan.

Media Tanam yang Tepat untuk Lidah Mertua

Keberhasilan cara menanam lidah mertua sangat ditentukan oleh pemilihan media tanam yang sesuai. Tanaman ini memiliki karakteristik kering dan sangat tidak menyukai genangan air. Media tanam yang terlalu padat dan menyimpan air akan menyebabkan pembusukan akar dalam waktu singkat.

Komposisi media tanam ideal untuk lidah mertua terdiri dari campuran pasir malang, sekam bakar, dan pupuk organik. Berdasarkan penelitian yang membandingkan berbagai komposisi media, campuran pasir, kompos, dan tanah dengan perbandingan 1:1:1 menghasilkan rata-rata jumlah akar terbanyak, yaitu 17,2 akar per stek. Sementara itu, untuk varietas lidah mertua berdaun silindris yang lebih menyukai kondisi kering, kamu dapat menggunakan komposisi pasir malang, sekam bakar, dan pupuk organik dengan perbandingan 2:1:1.

Alternatif lain yang praktis adalah menggunakan campuran tanah pot untuk kaktus atau sukulen yang sudah tersedia di toko tanaman. Media tanam jenis ini telah diformulasikan khusus agar memiliki drainase excellent dan mencegah akumulasi air berlebih. Pastikan pot yang kamu gunakan memiliki lubang drainase di bagian bawah untuk membuang kelebihan air.

Langkah-Langkah Menanam Lidah Mertua dari Stek Daun

Teknik perbanyakan lidah mertua yang paling populer dan mudah dilakukan adalah stek daun. Metode ini memungkinkan kamu menghasilkan banyak tanaman baru dari satu helai daun saja. Berikut panduan lengkapnya:

Persiapan Alat dan Bahan:

  • Pisau tajam dan steril
  • Pot dengan lubang drainase
  • Media tanam berpasir atau campuran kaktus
  • Air bersih untuk menyiram

Prosedur Penanaman:

  1. Pilih daun yang sehat dari tanaman induk yang cukup umur. Pilih daun tua yang masih hijau segar dan bebas dari bercak penyakit.
  2. Potong daun menjadi beberapa bagian dengan ukuran minimal 7-10 cm. Untuk jenis lidah mertua berdaun panjang dan keras, satu helai daun dapat kamu potong menjadi tiga hingga empat bagian. Sementara untuk varietas berdaun pendek, satu helai daun cukup untuk satu stek.
  3. Biarkan potongan daun mengering selama 2-3 hari di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung. Proses pengeringan ini penting untuk membentuk lapisan callus pada bekas potongan yang mencegah pembusukan saat ditanam.
  4. Tancapkan bagian bawah potongan daun ke dalam media tanam sedalam 2-3 cm. Pastikan orientasi tidak terbalik—bagian yang dekat pangkal harus tertanam, sedangkan ujung runcing menghadap ke atas.
  5. Siram secukupnya hingga media tanam lembap, tetapi tidak becek. Hindari penyiraman berlebihan yang dapat menyebabkan stek membusuk sebelum berakar.
  6. Letakkan pot di tempat teduh yang tidak terpapar sinar matahari langsung selama proses pembentukan akar. Dalam waktu 1-2 bulan, akar baru akan muncul dan tunas mulai bertumbuhan.

Cara Menanam Lidah Mertua dengan Pemisahan Tunas

Selain stek daun, cara menanam lidah mertua yang lebih cepat menghasilkan tanaman dewasa adalah melalui pemisahan tunas atau anakan. Metode ini memanfaatkan kemampuan alami lidah mertua dalam menghasilkan anakan dari rimpang bawah tanah.

Langkah-langkah pemisahan tunas:

  1. Pilih tanaman induk yang rimbun dan telah memiliki beberapa anakan. Anakan yang ideal berumur 2-4 bulan dengan minimal 3 helai daun.
  2. Keluarkan seluruh tanaman dari pot dengan hati-hati. Ketuk-ketuk pinggiran pot untuk melonggarkan media tanam yang menempel pada akar.
  3. Bersihkan akar dari media tanam yang menempel, lalu identifikasi tunas yang akan kamu pisahkan. Pastikan setiap tunas memiliki akar sendiri.
  4. Potong tunas dari tanaman induk menggunakan pisau steril. Olesi bekas potongan dengan fungisida atau pestisida untuk mencegah infeksi.
  5. Siapkan pot baru yang telah kamu isi media tanam hingga 3/4 bagian. Buat lubang di tengah, lalu tanam tunas yang telah kamu pisahkan.
  6. Tambahkan media tanam hingga memenuhi pot dan padatkan perlahan. Berikan pupuk NPK sebagai nutrisi awal.
  7. Siram hingga air mengalir dari lubang drainase, lalu letakkan di tempat teduh selama masa pemulihan.

Perawatan Harian Tanaman Lidah Mertua

Setelah berhasil menanam, tahap selanjutnya adalah perawatan rutin. Lidah mertua terkenal sebagai tanaman low-maintenance, tetapi tetap memerlukan perhatian pada beberapa aspek penting.

1. Penyiraman yang Tepat

Prinsip utama dalam menyiram lidah mertua adalah lebih baik kurang air daripada berlebihan. Tanaman ini menyimpan air pada daunnya, sehingga mampu bertahan dalam kondisi kering untuk waktu lama. Siram hanya ketika media tanam benar-benar kering, biasanya setiap 2-3 minggu sekali pada musim kemarau.

Pada musim hujan atau cuaca lembap, kurangi frekuensi penyiraman. Kelebihan air menjadi penyebab utama pembusukan akar dan daun menguning pada lidah mertua. Jika kamu menempatkan tanaman di luar ruangan dan terkena hujan, pastikan pot memiliki drainase yang lancar dan tidak tergenang.

2. Pencahayaan Ideal

Lidah mertua toleran terhadap berbagai kondisi pencahayaan, mulai dari ruangan remang hingga ambang jendela yang terang. Namun, pertumbuhan optimal terjadi pada cahaya terang tidak langsung dengan minimal 2 jam sinar matahari langsung atau 4 jam sinar matahari tidak langsung.

Hindari paparan sinar matahari langsung yang terlalu intens karena dapat menyebabkan daun terbakar dan menguning. Sebaliknya, di tempat yang terlalu gelap, pertumbuhan tanaman akan terhambat meski tetap mampu bertahan hidup.

3. Pemupukan Berkala

Lidah mertua tidak membutuhkan banyak pupuk karena pertumbuhannya yang lambat. Berikan pupuk NPK seimbang (15-15-15) sebanyak satu sendok teh untuk pot berdiameter 15 cm, setiap tiga bulan sekali. Alternatif lain adalah pupuk daun atau kompos yang dapat kamu berikan setiap satu minggu sekali.

Hindari pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi karena dapat mengubah warna daun beraneka ragam menjadi hijau polos. Untuk varietas berdaun kuning atau variegata, gunakan pupuk dengan komposisi N-P-K seimbang.

Mengatasi Masalah Umum pada Lidah Mertua

Meskipun tergolong tanaman yang tangguh, lidah mertua tetap dapat mengalami masalah jika perawatan tidak tepat. Berikut solusi untuk permasalahan yang sering muncul:

MasalahPenyebabSolusi
Daun menguningPenyiraman berlebihan, cahaya rendah, atau serangan hamaSesuaikan pola penyiraman, pindahkan ke lokasi lebih terang, aplikasikan pestisida jika perlu
Daun terkulai dan lembekBusuk akar akibat penyiraman berlebihanHentikan penyiraman, periksa drainase pot, potong akar busuk dan tanam ulang
Busuk akarMedia tanam terlalu basah, drainase burukBuang media lama, potong akar terkena, keringkan 24 jam, tanam kembali dengan media segar
Bercak merah atau coklat pada daunInfeksi jamur Colletotrichum sansevieriaeAplikasikan fungisida, kurangi kelembapan, perbaiki sirkulasi udara

Penyakit yang paling sering menyerang lidah mertua adalah bercak daun yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sansevieriae dengan intensitas serangan mencapai 18,03%. Kamu dapat mencegah penyakit tersebut dengan menjaga kebersihan tanaman, menghindari penyiraman pada daun, dan memastikan sirkulasi udara yang baik.

Manfaat Lidah Mertua untuk Kesehatan dan Lingkungan

Menanam lidah mertua memberikan manfaat jauh melampaui nilai estetika. Kandungan pregnane glycoside pada daunnya mampu menguraikan racun dan senyawa berbahaya di udara. Berikut berbagai manfaat yang bisa kamu rasakan:

Manfaat Kesehatan:

  • Menyerap polutan udara termasuk karbon monoksida, benzene, formaldehyde, dan asap rokok
  • Menyerap radiasi elektromagnetik dari perangkat elektronik seperti televisi, komputer, dan smartphone
  • Memproduksi oksigen dalam jumlah tinggi melalui proses fotosintesis
  • Bahan alami untuk antiseptik, obat sakit kepala, dan ramuan herbal

Manfaat Lingkungan:

  • Tanaman pembersih udara dalam ruangan (indoor air purifier)
  • Dapat kamu jadikan pagar hidup yang menyehatkan
  • Sumber bahan kerajinan anyaman di beberapa negara

Penelitian farmakologi juga menunjukkan bahwa ekstrak lidah mertua memiliki aktivitas antihiperglikemia yang berpotensi untuk pengobatan diabetes, serta aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Menanam lidah mertua adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan dan keindahan hunianmu. Dengan mengikuti panduan cara menanam lidah mertua yang telah diuraikan, kamu tidak hanya mendapatkan tanaman hias yang memikat, tetapi juga pembersih udara alami yang bekerja tanpa henti. Bagikan artikel ini kepada teman dan keluargamu yang juga ingin menikmati manfaat lidah mertua, dan mulai budidayakan tanaman istimewa ini di rumahmu hari ini. Sebab, udara bersih adalah hak setiap rumah, dan lidah mertua adalah sahabat terbaik untuk mewujudkannya.

Baca juga:

FAQ

1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menanam lidah mertua dari stek daun hingga berakar?

Proses pembentukan akar dari stek daun lidah mertua membutuhkan waktu 1 hingga 2 bulan. Setelah akar terbentuk, tunas baru akan mulai muncul dari media tanam. Sabar adalah kunci utama dalam perbanyakan dengan metode ini karena lidah mertua termasuk tanaman slow-growing.

2. Apakah lidah mertua bisa tumbuh tanpa sinar matahari langsung?

Ya, lidah mertua dapat bertahan hidup di tempat tanpa sinar matahari langsung. Tanaman ini toleran terhadap cahaya redup dan bahkan dapat bertahan di sudut ruangan yang gelap. Namun, pertumbuhannya akan sangat lambat dibandingkan jika kamu menempatkannya di lokasi dengan cahaya terang tidak langsung. Untuk pertumbuhan optimal, sediakan minimal 2-4 jam cahaya tidak langsung setiap hari.

3. Seberapa sering lidah mertua perlu disiram?

Lidah mertua hanya perlu disiram ketika media tanam benar-benar kering, biasanya setiap 2-3 minggu sekali. Pada musim hujan atau cuaca lembap, kamu dapat mengurangi frekuensi penyiraman. Penyiraman berlebihan menjadi penyebab utama kematian tanaman lidah mertua karena dapat memicu pembusukan akar.

4. Apakah tanaman lidah mertua berbahaya bagi hewan peliharaan?

Ya, lidah mertua beracun bagi anjing dan kucing. Seluruh bagian tanaman mengandung saponin yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan jika tertelan oleh hewan peliharaan. Gejala keracunan meliputi muntah, diare, dan hipersalivasi. Tempatkan tanaman di area yang tidak terjangkau hewan peliharaan.

5. Bagaimana cara mengatasi daun lidah mertua yang menguning?

Daun menguning pada lidah mertua umumnya disebabkan oleh penyiraman berlebihan, cahaya rendah, atau serangan hama. Langkah penanganan meliputi: hentikan penyiraman sementara, pindahkan tanaman ke lokasi dengan cahaya lebih terang, periksa apakah ada hama seperti kutu putih atau tungau, dan pastikan pot memiliki drainase yang baik. Jika akar sudah membusuk, potong bagian yang rusak dan tanam ulang dengan media tanam segar.

Referensi

  1. Afzal, S., et al. (2024). In vitro antimicrobial and cytotoxic potential against colorectal cancer cell lines using ethanolic leaf extract of Sansevieria trifasciata (Agavaceae). Indian Journal of Pharmacology, *56*(5), 329–334. https://doi.org/10.4103/ijp.ijp_564_24
  2. Hoornenborg, C. W., et al. (2025). Dracaena trifasciata (Prain) Mabb leaf extract protects MIN6 pancreas-derived beta cells against the diabetic toxin streptozotocin: Role of the NF-κB pathway. Frontiers in Pharmacology, *16*, 1485952. https://doi.org/10.3389/fphar.2025.1485952
  3. Kasmawati, H., et al. (2023). Antibacterial potency of an active compound from Sansevieria trifasciata Prain: An integrated in vitro and in silico study. Molecules, *28*(16), 6096. https://doi.org/10.3390/molecules28166096
  4. Kee, Y. J., Zakaria, L., & Mohd, M. H. (2020). Identification, pathogenicity and histopathology of Colletotrichum sansevieriae causing anthracnose of Sansevieria trifasciata in Malaysia. Journal of Applied Microbiology, *129*(3), 626–636. https://doi.org/10.1111/jam.14640
  5. Li, J., Deng, H., Diao, L., Zhang, R., Li, J., Liu, H. X., & Jin, J. (2022). First report of anthracnose caused by Colletotrichum sansevieriae on Sansevieria trifasciata var. laurentii in China. Plant Disease. Advance online publication. https://doi.org/10.1094/PDIS-03-22-0673-PDN
  6. Montaluisa-Mantilla, M. S., et al. (2023). Botanical filters for the abatement of indoor air pollutants. Chemosphere, *345*, 140483. https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2023.140483
  7. Nakamura, M., et al. (2018). Draft genome sequence of Colletotrichum sansevieriae Sa-1-2, the anthracnose pathogen of Sansevieria trifasciata. Data in Brief, *18*, 691–695. https://doi.org/10.1016/j.dib.2018.03.083
  8. Tchegnitegni, B. T., et al. (2017). A dihydrochalcone derivative and further steroidal saponins from Sansevieria trifasciata Prain. Zeitschrift für Naturforschung C, *72*(11–12), 477–482. https://doi.org/10.1515/znc-2017-0027
  9. Teponno, R. B., et al. (2016). Trifasciatosides A–J, steroidal saponins from Sansevieria trifasciata. Chemical and Pharmaceutical Bulletin, *64*(9), 1347–1355. https://doi.org/10.1248/cpb.c16-00337
  10. Thu, Z. M., et al. (2021). Structures and bioactivities of steroidal saponins isolated from the genera Dracaena and Sansevieria. Molecules, *26*(7), 1916. https://doi.org/10.3390/molecules26071916

di review oleh tim reviewers

Scroll to Top