Sejarah Pura Ulun Danu Beratan, Pura di Uang Rp50.000 yang Ikonik

Sejarah Pura Ulun Danu Beratan

Sejarah Pura Ulun Danu Beratan

Sejarah Pura Ulun Danu Beratan tidak hanya mencatat tahun pendiriannya, tetapi juga menyimpan kisah tentang ketangguhan seorang raja dan hubungan mendalam masyarakat Bali dengan sumber air. Pura yang tampak mengambang di atas Danau Beratan ini merupakan bukti nyata bagaimana kearifan lokal dan spiritualitas berpadu harmonis dengan keindahan alam .

Jejak Sejarah dari Lontar Babad Mengwi

Untuk memahami asal-usul pura suci ini, kita harus merujuk pada naskah kuno Lontar Babad Mengwi. Naskah ini menjadi satu-satunya sumber primer yang mengungkap pendirian Pura Ulun Danu Beratan. Kisahnya berpusat pada Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, yang kelak bergelar I Gusti Agung Sakti setelah mendapatkan pencerahan spiritual .

Setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran, sang raja melakukan tapa brata di puncak Gunung Mangu untuk memohon petunjuk. Usai mendapatkan wahyu, ia berhasil memenangkan peperangan dan sebagai wujud syukur, ia mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan Babad Mengwi menyebutkan bahwa pembangunan Pura Ulun Danu terjadi sebelum pendirian Pura Taman Ayun. Karena Pura Taman Ayun didirikan pada tahun 1634 Masehi (1556 Saka), maka para ahli menyimpulkan bahwa Pura Ulun Danu Beratan telah berdiri sekitar tahun 1633 Masehi.

Yang lebih menarik, di halaman pura, para arkeolog menemukan sarkofagus dan papan batu peninggalan zaman Megalitikum, sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kawasan Danau Beratan telah lama dianggap sakral dan digunakan sebagai tempat pemujaan jauh sebelum pura yang kita lihat sekarang berdiri.

Fungsi Spiritual dan Estetika

Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar destinasi wisata biasa. Pura ini berfungsi sebagai Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja manifestasi Tuhan Yang Maha Esa untuk kesejahteraan dunia . Secara spesifik, pura ini didedikasikan untuk memuja Dewi Danu, dewi air, danau, dan sungai, serta Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara . Masyarakat Hindu Bali, khususnya para petani (subak), bersembahyang di sini untuk memohon kesuburan lahan dan kemakmuran, karena air dari Danau Beratan mengairi sawah-sawah di seluruh wilayah hilir.

Karena keindahan arsitektur dan panoramanya yang memukau, pemerintah mengabadikan kemegahan pura ini sebagai gambar pada pecahan uang Rp50.000 edisi tahun 2016 . Pemandangan paling terkenal adalah Pelinggih Meru Tumpang Solas (bangunan suci dengan atap 11 tingkat) yang seolah-olah terapung di atas air, menciptakan harmoni sempurna antara ciptaan Tuhan dan karya seni manusia.

Kompleks Suci di Tepi Danau

Kompleks Pura Ulun Danu Beratan tidak hanya terdiri dari satu bangunan, melainkan gabungan beberapa pura dan sebuah stupa yang mencerminkan toleransi dan akulturasi . Saat kamu berkunjung, kamu akan menjumpai:

  • Pura Penataran Agung: Pura pertama yang kamu lihat setelah melewati Candi Bentar. Fungsinya sebagai tempat pemujaan Tri Purusa.
  • Pura Dalem Purwa: Terletak di tepi selatan danau, tempat ini didedikasikan untuk Batari Durga dan Dewa Ludra sebagai sumber kemakmuran.
  • Pura Taman Beji: Digunakan untuk upacara Melasti (penyucian diri) menjelang Hari Raya Nyepi.
  • Pura Lingga Petak: Inilah jantung kompleks yang paling ikonik, berada di tepi danau. Di sini terdapat Meru Tumpang Solas untuk Dewa Wisnu dan Dewi Danu, serta Meru Tumpang Telu yang menyimpan sumber air utama.
  • Pura Prajapati: Ditandai dengan pohon beringin besar, pura ini berkaitan erat dengan upacara keagamaan.
  • Stupa Buddha: Keberadaan stupa di kompleks pura Hindu ini melambangkan keselarasan dan kerukunan umat beragama di Bali.

Pura yang terletak di ketinggian 1.239 mdpl ini dikelola secara bersama oleh empat desa satakan (kelompok desa adat) di sekitarnya, yaitu Satakan Candi Kuning, Bangah, Antapan, dan Baturiti. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian pura adalah tanggung jawab bersama masyarakat adat.

Setiap kunjunganmu ke Pura Ulun Danu Beratan, kamu tidak hanya menyaksikan keindahan arsitektur, tetapi juga merasakan denyut nadi spiritual dan sejarah panjang masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisan alam dan Tuhan.

Apakah artikel ini menambah wawasanmu tentang keajaiban Bali? Yuk, bagikan artikel ini ke teman-temanmu yang juga pecinta budaya dan sejarah!

Baca juga:

Referensi

  1. Michella. (2014). Relasi fungsi, bentuk, dan makna pada arsitektur Pura Ulun Danu, Batur-Bali (Skripsi Sarjana). Bandung: Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan.
  2. Mahardika, Gede. (2021). “Pura Ulun Danu Beratan Sebagai Daya Tarik Wisata (DTW) Desa Candikuning Kabupaten Tabanan.” Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 4(3), 352-363.
  3. Suweta, I Made. (2018). “Rekonstruksi Nilai Teo-Ekologi Hindu Pada Pemujaan Pura Ulun Danu Di Bali.” Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, 2(1).
  4. Huda, A. N., Rizqi, U. B. N., Silviana, M. F., Apriliani, I. P., & Tamariska, G. (2024). “Etnomatematika: Eksplorasi Geometri pada Bangunan Pura Ulun Danu Bali.” Prosiding SANTIKA: Seminar Nasional Tadris Matematika UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, 4, 257-267.
Scroll to Top