
Kesalahan intermittent fasting – Dalam upaya mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat, banyak orang mencari cara baru untuk mengatur pola makan mereka. Salah satu metode yang telah populer belakangan ini adalah Intermittent Fasting atau puasa intermittent.
Puasa intermittent adalah pola makan yang melibatkan siklus antara periode puasa dan periode makan. Metode ini telah diklaim memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa, termasuk penurunan berat badan, peningkatan fungsi otak, dan meningkatkan kesehatan jantung.
Namun, seperti halnya dengan banyak pendekatan diet dan nutrisi lainnya, ada kesalahan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menerapkan puasa intermittent. Dalam artikel ini, kami akan membahas beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari agar dapat mencapai hasil yang diinginkan.
Kesalahan Intermittent Fasting
Berikut ini beberapa kesalahan intermittent fasting yang menyebabkan kebanyakan orang gagal dalam menjalankannya, yuuk simak!
Tidak Memahami Aturan Intermittent Fasting yang Benar

Agar mendapatkan manfaat maksimal dari puasa intermittent, penting untuk memahami aturan-aturan dasarnya. Banyak orang terjebak dalam kesalahan pertama dengan tidak benar-benar memahami konsep puasa intermittent. Beberapa orang mungkin mengira bahwa mereka dapat makan apa saja dan sebanyak yang mereka inginkan selama periode makan, yang menghasilkan pola makan yang tidak seimbang dan tidak sehat.
Aturan umum puasa intermittent melibatkan siklus antara periode puasa dan periode makan tertentu, seperti 16 jam puasa dan 8 jam makan. Selama periode makan, penting untuk mengonsumsi makanan sehat dan seimbang, termasuk sumber protein, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks.
Baca juga: Cara Diet Intermittent Fasting 16 8
Mengharapkan Hasil Cepat dalam Waktu Singkat

Salah satu kesalahan umum yang dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan puasa intermittent adalah mengharapkan hasil yang cepat dalam waktu singkat. Meskipun banyak testimonial mengklaim bahwa mereka telah kehilangan 10 kg dalam sebulan dengan puasa intermittent, hasil ini tidak selalu dapat diulang oleh setiap individu. Setiap orang memiliki metabolisme dan respons tubuh yang berbeda terhadap metode ini.
Penting untuk diingat bahwa penurunan berat badan yang sehat adalah proses yang berkelanjutan dan membutuhkan waktu. Jangan terjebak dalam janji-janji hasil instan dan tetaplah konsisten dalam menjalankan puasa intermittent untuk mencapai tujuan berat badan yang sehat.
Berhemat Pada Protein
Penelitian oleh Arciero menemukan bahwa hasil yang lebih baik dapat dicapai dalam intermittent fasting jika seseorang mengonsumsi makanan berprotein tinggi setidaknya empat kali selama periode makan mereka. Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa protein dapat meningkatkan rasa kenyang setelah makan dan bahkan dapat meningkatkan pembakaran kalori.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pencernaan protein memerlukan lebih banyak energi dibandingkan dengan karbohidrat atau lemak. Protein juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otot, yang sangat penting dalam menjaga metabolisme yang sehat. Beberapa program diet intermittent fasting dikaitkan dengan risiko kehilangan massa otot yang lebih tinggi, dan konsumsi protein tambahan dapat membantu mengatasi masalah ini.
Mengabaikan Olahraga dan Aktivitas Fisik

Beberapa orang mungkin menganggap puasa intermittent sebagai cara untuk menurunkan berat badan tanpa perlu melakukan olahraga atau aktivitas fisik. Namun, ini adalah kesalahan besar. Meskipun puasa intermittent dapat membantu mengatur pola makan dan mengurangi asupan kalori, olahraga tetap merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Aktivitas fisik membantu meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuh, membakar kalori, dan memperbaiki kesehatan jantung. Jadi, jangan lupakan pentingnya melakukan olahraga secara teratur dan menggabungkannya dengan puasa intermittent untuk hasil yang optimal.
Berpuasa Hanya Dengan Air Putih

Ada sebuah pemahaman yang keliru bahwa kita tidak boleh mengonsumsi apa pun selama intermittent fasting,” ungkap Arciero. “Sebenarnya, kita masih bisa mendapatkan manfaat dari puasa dengan mengonsumsi sedikit kalori melalui minuman seperti kopi, teh, dan minuman yang mengandung elektrolit,” tambahnya.
Dalam sebuah penelitian, kelompok yang menjalani puasa intermittent mengonsumsi sekitar 400 kalori per hari, yang dibagi menjadi beberapa porsi kecil suplemen tinggi serat dan protein setiap empat jam. Meskipun demikian, mereka tetap memperhatikan makanan yang sangat spesifik, seperti kaldu tulang, biskuit protein rendah glikemik, porsi kecil kacang-kacangan, dan biji-bijian. Namun, tidak dihitung sebagai puasa jika kita menyelipkan segenggam keripik kentang atau mengambil satu gigitan es krim.
Baca juga: Menu Bulking 2.500 Kalori: Membangun Massa Otot
Puasa Saat Haid atau Hamil
Holm menjelaskan bahwa puasa yang berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan stres pada tubuh. Hal ini mengakibatkan peningkatan produksi hormon kortisol yang terkait dengan respons stres. Menurut Holm, karena progesteron berperan sebagai prekursor kortisol, peningkatan kadar kortisol akan menyebabkan penurunan kadar progesteron.
Perlu diketahui bahwa satu minggu sebelum menstruasi, kadar progesteron mulai menurun secara alami. Melakukan puasa pada periode ini dapat menyebabkan penurunan kadar progesteron yang lebih drastis. Wanita perlu menyadari bahwa kadar progesteron yang rendah dapat menyebabkan ketidakaturan menstruasi dan munculnya bercak pramenstruasi. Selain itu, mereka mungkin juga mengalami gangguan suasana hati, gangguan tidur, kecemasan, dan bahkan depresi.
Tidak Memperhatikan Asupan Makanan
Salah satu aspek yang penting dalam kesuksesan puasa intermittent adalah memperhatikan asupan makanan selama periode makan. Beberapa orang mungkin meremehkan pentingnya memilih makanan yang sehat dan bergizi selama periode makan mereka. Puasa intermittent bukanlah alasan untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau berlebihan selama periode makan.
Justru sebaliknya, saat makan, pastikan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi, termasuk buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, dan sumber protein berkualitas tinggi. Menghindari makanan olahan, makanan cepat saji, dan makanan tinggi gula juga merupakan langkah yang penting dalam menjaga kesehatan selama puasa intermittent.
Tidak Mengkonsultasikan dengan Profesional Kesehatan

Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, adalah kesalahan tidak meminta nasihat dari profesional kesehatan sebelum memulai puasa intermittent. Setiap individu memiliki kebutuhan dan kondisi kesehatan yang unik. Mengkonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai puasa intermittent adalah langkah yang bijaksana. Mereka dapat membantu memberikan panduan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan individu, memastikan bahwa puasa intermittent dilakukan dengan benar dan aman.
Baca juga: Burung Garuda: Sejarah dan Lambang Negara Indonesia
Kesimpulan
Puasa intermittent dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai tujuan kesehatan dan penurunan berat badan yang sehat. Namun, penting untuk menghindari kesalahan yang umum dilakukan oleh banyak orang. Memahami aturan puasa intermittent, memiliki harapan yang realistis, mengkombinasikan dengan olahraga, memperhatikan asupan makanan, dan berkonsultasi dengan profesional kesehatan adalah langkah-langkah penting untuk mencapai kesuksesan dalam menerapkan puasa intermittent. Dengan menghindari kesalahan intermittent fasting, Anda dapat memaksimalkan manfaat kesehatan dari puasa intermittent dan mencapai tujuan hidup yang sehat dan bahagia.
Referensi
- Arciero, P. J., Edmonds, R., He, F., Ward, E., & Gumpricht, E. (2019). A Protein-Pacing Caloric-Restricted Diet and Concurrent Exercise Intervention Improves Body Composition Parameters in Obese Adults: A Randomized Controlled Trial. Nutrients, 11(3), 573. doi:10.3390/nu11030573
- Antoni, R., Johnston, K. L., Collins, A. L., & Robertson, M. D. (2018). Investigation into the acute effects of total and partial energy restriction on postprandial metabolism among overweight/obese participants. British Journal of Nutrition, 119(6), 707-718. doi:10.1017/S0007114518000346
- Patterson, R. E., Laughlin, G. A., LaCroix, A. Z., Hartman, S. J., Natarajan, L., Senger, C. M., … Gallo, L. C. (2015). Intermittent Fasting and Human Metabolic Health. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, 115(8), 1203-1212. doi:10.1016/j.jand.2015.02.018
- Tinsley, G. M., & La Bounty, P. M. (2015). Effects of intermittent fasting on body composition and clinical health markers in humans. Nutrition Reviews, 73(10), 661-674. doi:10.1093/nutrit/nuv041
- Harris, L., Hamilton, S., Azevedo, L. B., Olajide, J., De Brún, C., Waller, G., … Ells, L. (2018). Intermittent fasting interventions for treatment of overweight and obesity in adults: a systematic review and meta-analysis. JBI Database of Systematic Reviews and Implementation Reports, 16(2), 507-547. doi:10.11124/JBISRIR-2016-003248