Manfaat Bekam untuk Wanita
Lifestyle

8 Manfaat Bekam untuk Wanita

Manfaat Bekam untuk Wanita – Terapi bekam merupakan salah satu pengobatan tradisional yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Berasal dari Tiongkok, terapi ini dilakukan dengan menempatkan cangkir berdaya isap di atas kulit untuk melancarkan sirkulasi darah, meredakan ketegangan otot, dan mengurangi peradangan. Meskipun terapi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, terdapat sejumlah manfaat bekam yang dapat dirasakan oleh wanita.

Manfaat Bekam untuk Wanita

Berikut ini beberapa manfaat bekam untuk wanita yang disadur dari beberapa sumber ilmiah.

1. Menjaga Kesehatan Kulit

Studi menyebutkan bahwa bekam dapat membantu meningkatkan kesehatan kulit dengan melancarkan aliran darah dan menyediakan nutrisi yang dibutuhkan oleh kulit. Ini dapat membantu mengurangi jerawat, eksim, dan masalah kulit lainnya, sehingga membuat kulit terlihat lebih sehat dan bercahaya.

2. Memperbaiki Suasana Hati

Salah satu manfaat bekam untuk wanita dengan memperbaiki suasana hati (mood). Penelitian menunjukan bahwa peredaran darah yang lancar dan hormon endorfin yang dihasilkan tubuh setelah terapi bekam mampu mengurangi stres, membuat tubuh lebih relaks dan tenang, Ini dapat membuat tubuh terasa lebih nyaman dan membuat suasana hati jadi lebih baik.

3. Memperbaiki Kualitas Tidur

Kualitas tidur yang buruk dapat berdampak negatif pada kesehatan wanita. Bekam dapat membantu memperbaiki kualitas tidur dengan merangsang peredaran darah dan merelaksasi tubuh. Ini membuat wanita dapat tidur lebih nyenyak dan bangun dengan perasaan segar dan bugar.

4. Mengurangi Nyeri Pasca Melahirkan

Setelah melahirkan, beberapa wanita mungkin mengalami nyeri di area sekitar anus dan vagina (perineum), terutama yang melahirkan secara normal. Untuk mengurangi nyeri ini, Studi mengungkapkan bahwa kombinasi antara terapi bekam dan akupresur dapat membantu. Kombinasi ini dapat merangsang pembentukan hormon endorfin yang dapat meredakan nyeri secara alami dan melancarkan aliran darah, sehingga bisa meredakan nyeri. Bekam juga dapat meredakan nyeri punggung dan otot pascapersalinan.

5. Menghilangkan Pegal-Pegal

Sirkulasi darah yang lancar setelah bekam juga bisa mengurangi ketegangan dan pegal-pegal pada otot. Untuk mendapatkan manfaat ini, biasanya cangkir bekam ditempatkan pada bagian tubuh yang terasa sakit, bisa di punggung, bahu, atau leher.

6. Mengatasi Masalah Pencernaan

Beberapa studi mengungkapkan bahwa bekam dapat membantu mengatasi masalah pencernaan dengan merangsang pergerakan usus dan meningkatkan pencernaan. Ini dapat membantu mengurangi risiko terjadinya masalah pencernaan seperti sembelit atau diare.

7. Meredakan Migrain dan Sakit Kepala

Manfaat bekam untuk wanita juga dapat meredakan migrain. Terapi ini mampu melancarkan aliran darah ke otak sehingga bisa mengurangi rasa sakit kepala sebelah yang muncul. Beberapa studi menunjukan, bekam juga bermanfaat bagi wanita untuk mengatasi sakit kepala yang disertai dengan stres atau gejala PMS.

8. Meningkatkan Fungsi Reproduksi

Bekam juga diketahui dapat meningkatkan fungsi reproduksi wanita. Dengan merangsang aliran darah ke organ reproduksi, bekam dapat membantu meningkatkan kesuburan dan meredakan gejala menopause. Wanita yang mengalami masalah kesuburan atau gejala menopause dapat mempertimbangkan terapi bekam sebagai salah satu solusi yang efektif.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menjalani Terapi Bekam

Meski ada berbagai manfaat bekam untuk wanita, terapi ini juga memiliki risiko. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah menjalani bekam antara lain memar, kulit terbakar, sakit kepala, mual, nyeri otot, dan infeksi kulit. Oleh karena itu, penting untuk memilih klinik bekam yang tepat dan dilakukan oleh praktisi yang berlisensi.

Terapi bekam tidak cocok untuk semua orang, terutama bagi wanita yang sedang hamil atau memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti anemia, hemofilia, epilepsi, eksim, kanker, penyakit ginjal, riwayat stroke atau penyakit jantung, trombosis vena dalam (DVT). Sebelum menjalani terapi bekam, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan bahwa terapi ini aman bagi kondisi kesehatan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat ya, terimakasih.

Baca juga:

Referensi

  1. Wang, L., Cai, Z., Li, X., & Zhu, A. (2023). Efficacy of cupping therapy on pain outcomes: an evidence-mapping study. Frontiers in Neurology14, 1266712.
  2. Shen, W. C., Jan, Y. K., Liau, B. Y., Lin, Q., Wang, S., Tai, C. C., & Lung, C. W. (2022). Effectiveness of self-management of dry and wet cupping therapy for low back pain: A systematic review and meta-analysis. Medicine101(51), e32325.
  3. Kenari, H. M., Kordafshari, G., & Moghimi, M. (2022). The effectiveness of cupping in Iranian researches: A systematic review of animal and human studies. Traditional and Integrative Medicine.
  4. Choi, T. Y., Ang, L., Ku, B., Jun, J. H., & Lee, M. S. (2021). Evidence map of cupping therapy. Journal of clinical medicine10(8), 1750.
  5. Silva, H. J. A., Barbosa, G. M., Silva, R. S., Saragiotto, B. T., Oliveira, J. M. P., Pinheiro, Y. T., … & de Souza, M. C. (2021). Dry cupping therapy is not superior to sham cupping to improve clinical outcomes in people with non-specific chronic low back pain: a randomised trial. Journal of physiotherapy67(2), 132-139.
  6. Tabatabaei, F., Pasalar, M., Tajadini, H., Kamali, M., & Rampp, T. (2021). Effectiveness of Wet Cupping on Patients with Facial Acne Vulgaris: A 12-Week, Randomized, Single-Blind, Intervention-Sham-Controlled Trial. Complementary Medicine Research28(6), 508-515.
  7. Tosun, H. Ü. L. Y. A., & Pınar, G. (2021). The effect of dry-cupping combined with lavender oil massage on postpartum perineal pain: a case study. TMR Non-Drug Ther4(2), 8.
  8. Cramer, H., Klose, P., Teut, M., Rotter, G., Ortiz, M., Anheyer, D., … & Brinkhaus, B. (2020). Cupping for patients with chronic pain: a systematic review and meta-analysis. The journal of pain21(9-10), 943-956.
  9. El-Domyati, M., Saleh, F., Barakat, M., & Mohamed, N. (2013). Evaluation of cupping therapy in some dermatoses. Egyptian Dermatology Online Journal9(1), 2.