Geopark Indonesia: 12 Warisan Geologi Dunia yang Diakui UNESCO untuk Wisata Berkelanjutan

Geopark Indonesia

Geopark Indonesia

Geopark Indonesia telah menjelma menjadi primadona baru dalam peta pariwisata nasional sekaligus garda terdepan penerapan konsep pariwisata berkelanjutan. Kamu mungkin pernah mendengar istilah ini, tetapi tahukah kamu bahwa di balik keindahan alamnya yang memukau, geopark menyimpan cerita geologi bumi yang terbentang selama jutaan tahun? Kawasan ini bukanlah sekadar taman biasa; geopark menjelma sebagai laboratorium alam yang hidup, tempat warisan geologi bertemu dengan keanekaragaman hayati dan budaya lokal dalam satu harmoni yang utuh.

Esensi Geopark dan Tujuan Utamanya

Secara sederhana, geopark merujuk pada kawasan geografis yang memiliki warisan geologi bernilai tinggi dan dikelola dengan pendekatan holistik. Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 mengatur bahwa geopark memadukan tiga elemen utama: keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity) untuk kepentingan konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Oleh karena itu, ketika kamu berkunjung ke sebuah geopark, kamu tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga turut serta dalam upaya pelestarian dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

Selain itu, visi UNESCO menekankan tiga pilar utama geopark, yaitu konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi lokal. Dengan demikian, geopark berfungsi sebagai instrumen strategis untuk mewujudkan pariwisata yang tidak eksploitatif terhadap alam. Bahkan, pendekatan ini semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran global akan pentingnya keberlanjutan.

Prestasi Indonesia di Kancah Global Geopark

Kabar baiknya, upaya Indonesia dalam mengembangkan geopark telah mendapat pengakuan dunia. Hingga tahun 2026, Indonesia telah memiliki 12 UNESCO Global Geoparks (UGGp), menempatkan negara kita di jajaran tiga besar dunia bersama Italia, di bawah China dan Spanyol. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Geopark Indonesia memiliki kualitas dan nilai ilmiah yang diakui secara internasional.

Ke-12 geopark yang telah menyandang status UNESCO Global Geopark adalah:

NoNama GeoparkLokasiTahun Ditetapkan
1Geopark BaturBali2012
2Geopark Gunung SewuDIY, Jateng, Jatim2015
3Geopark Ciletuh-PalabuhanratuJawa Barat2018
4Geopark Rinjani-LombokNTB2018
5Geopark Kaldera TobaSumatera Utara2020
6Geopark BelitongBangka Belitung2021
7Geopark Maros-PangkepSulawesi Selatan2023
8Geopark IjenJawa Timur2023
9Geopark Merangin JambiJambi2023
10Geopark Raja AmpatPapua Barat Daya2023
11Geopark KebumenJawa Tengah2025
12Geopark MeratusKalimantan Selatan2025

Sumber: Kementerian Pariwisata Indonesia

Dengan tambahan dua geopark baru pada tahun 2025, Indonesia semakin kokoh sebagai negara dengan kekayaan warisan geologi tropis yang tiada duanya. Tidak heran jika banyak pihak menjadikan Indonesia sebagai rujukan dalam pengembangan geopark di kawasan tropis.

Ragam Pesona Geopark Indonesia

Setiap Geopark Indonesia menawarkan keunikan dan cerita yang berbeda. Agar kamu lebih tergambar, mari kita telusuri beberapa di antaranya secara lebih mendalam.

1. Geopark Batur

Geopark Batur, sebagai geopark pertama Indonesia yang meraih pengakuan UNESCO pada tahun 2012, menyuguhkan kaldera vulkanik yang menjadi salah satu terindah di dunia. Kamu bisa menyaksikan langsung jejak letusan dahsyat Gunung Batur yang membentuk danau berbentuk bulan sabit sepanjang 7,5 kilometer. Untuk pengalaman edukasi yang lebih mendalam, kunjungi Museum Geopark Batur di Kintamani yang menyimpan koleksi batuan, fosil, dan diorama proses pembentukan kaldera. Dengan demikian, kunjunganmu tidak hanya memanjakan mata tetapi juga menambah wawasan kebumian.

2. Geopark Ijen

Geopark Ijen, yang terletak di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, terkenal dengan fenomena blue fire atau api biru yang hanya ada dua di dunia. Selain itu, danau kawahnya tercatat sebagai danau dengan tingkat keasaman tertinggi di bumi. Tidak heran jika Ijen menjadi incaran wisatawan mancanegara dan terus berbenah untuk mempertahankan status green card dari UNESCO sebagai bukti pengelolaan yang berkelanjutan. Bahkan, pemerintah setempat secara rutin mengevaluasi kapasitas pengunjung agar ekosistem tetap terjaga.

3. Geopark Merangin Jambi

Bagi pecinta paleontologi, Merangin Jambi menghadirkan surga tersembunyi. Geopark ini menyimpan fosil flora dari periode Permian Awal, berusia sekitar 290 juta tahun yang lalu, menjadikannya salah satu situs fosil tumbuhan paling utuh dan terakhir yang tersisa di dunia. Kamu bisa menyusuri Sungai Batang Merangin sambil mengamati fosil-fosil purba yang menempel di bebatuan di sepanjang aliran sungai. Karena itu, aktivitas rafting di sini memberikan sensasi petualangan yang berbeda dari tempat lain.

4. Geopark Raja Ampat

Di ujung timur Indonesia, Geopark Raja Ampat menyandang julukan “The Emerald Karst in the Equator” berkat gugusan karstnya yang terletak tepat di garis khatulistiwa. Keanekaragaman hayati lautnya menduduki peringkat tertinggi di dunia, dengan lebih dari 1.500 spesies ikan dan 600 spesies karang. Oleh sebab itu, kawasan ini menjadi surga bagi penyelam dan peneliti kelautan. Selain itu, pengembangan geopark di sini telah berdampak nyata pada ekonomi lokal, dengan 200 unit homestay, 30 resort, dan 163 pemandu wisata lokal yang beroperasi, serta pendapatan dari tarif jasa lingkungan mencapai Rp22,52 miliar pada tahun 2024.

5. Geopark Maros-Pangkep

Geopark Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan, yang masuk dalam daftar UNESCO pada tahun 2023, menyimpan potensi luar biasa. Kawasan ini memiliki lanskap karst tipe tower yang menjulang tinggi dan merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Cina Selatan. Lebih menarik lagi, di dalamnya terdapat ratusan gua yang pernah menjadi tempat tinggal manusia prasejarah. Dengan demikian, geopark ini membuka jendela untuk memahami peradaban awal di Nusantara.

Geowisata: Pengalaman Wisata yang Bermakna

Konsep geowisata menjadi jantung dari pengembangan geopark. Berbeda dengan wisata massal, geowisata mengutamakan edukasi, apresiasi terhadap alam, dan pemberdayaan masyarakat. Di Geopark Ngarai Sianok-Maninjau, Sumatera Barat, kamu bisa merasakan paket wisata yang memadukan eksplorasi geologi, kearifan lokal, hingga program “Siar Geopark to Masjid” yang mengintegrasikan nilai kebumian dengan pendekatan religius. Melalui pendekatan ini, wisatawan tidak sekadar menjadi penonton, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian.

Di sisi lain, pengembangan geowisata juga mendorong lahirnya produk-produk kreatif berbasis lokal, seperti kerajinan dari batu, kuliner khas, hingga festival budaya yang rutin digelar di setiap geopark. Karena itu, kunjungan ke geopark memberikan dampak berganda bagi masyarakat setempat.

Masa Depan Geopark Indonesia

Pemerataan dan pengembangan geopark terus berjalan. Kementerian Pariwisata menargetkan Indonesia memiliki 17 UNESCO Global Geopark pada tahun 2029. Untuk mencapai target tersebut, proses revalidasi dan validasi geopark memegang peranan penting untuk mempertahankan status green card dan mendorong geopark aspirasi seperti Bojonegoro dan Ranah Minang Silokek untuk segera diakui dunia. Dengan demikian, semakin banyak kawasan di Indonesia yang mendapatkan perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan.

Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, hingga masyarakat lokal, menjadi kunci keberhasilan. Sinergi ini memastikan bahwa pengembangan geopark tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga menjaga keseimbangan antara konservasi, edukasi, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan geopark bertumpu pada kolaborasi semua pihak.

Geopark Indonesia melampaui sekadar destinasi; geopark menjelma sebagai bukti nyata bahwa kita bisa merayakan keindahan alam, menggali ilmu pengetahuan, dan memberdayakan masyarakat secara bersama-sama. Dengan 12 geopark yang telah mendunia dan target lebih banyak lagi di masa depan, Indonesia menunjukkan komitmennya terhadap pariwisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan melestarikan.

Apakah kamu sudah pernah mengunjungi salah satu geopark di atas? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar dan ajak teman-temanmu untuk menjelajahi kekayaan bumi Indonesia secara bijak. Jangan lupa bagikan artikel ini agar semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya pariwisata berkelanjutan. Ingatlah, ketika kita menjaga warisan bumi, kita sedang menulis masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang. Selamat berpetualang dengan penuh makna!

Baca juga:

FAQ

1. Apa perbedaan antara Geopark Nasional dan UNESCO Global Geopark?

Geopark Nasional merujuk pada taman bumi yang diakui secara nasional oleh pemerintah Indonesia dan telah memenuhi syarat dasar seperti memiliki warisan geologi dan rencana induk. Sementara itu, UNESCO Global Geopark adalah status internasional yang UNESCO berikan setelah geopark nasional memenuhi persyaratan ketat, termasuk nilai geologi internasional, manajemen komprehensif, dan keterlibatan komunitas ilmiah.

2. Berapa jumlah total Geopark Indonesia yang diakui UNESCO saat ini?

Hingga tahun 2026, Indonesia memiliki 12 UNESCO Global Geoparks. Dua geopark terbaru yang ditetapkan pada tahun 2025 adalah Geopark Kebumen di Jawa Tengah dan Geopark Meratus di Kalimantan Selatan.

3. Apa saja manfaat mengunjungi geopark bagi wisatawan?

Berkunjung ke geopark memberikan pengalaman wisata yang lebih bermakna. Kamu bisa belajar tentang sejarah geologi bumi, menikmati keindahan alam yang unik, mengenal budaya lokal, dan berkontribusi langsung pada perekonomian masyarakat sekitar melalui penggunaan jasa lokal seperti homestay dan pemandu wisata.

4. Bagaimana cara geopark menjaga kelestarian lingkungan?

Pengelolaan geopark berlandaskan prinsip konservasi. Contohnya, di Raja Ampat terdapat SMART Patrol yang merupakan patroli warga lokal untuk menjaga satwa endemik. Selain itu, edukasi kepada pengunjung dan masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam menjadi fokus utama, seperti program pemilahan sampah di Geopark Ngarai Sianok-Maninjau.

5. Apakah semua geopark bisa dikunjungi untuk wisata?

Ya, sebagian besar geopark terbuka untuk kunjungan wisata. Namun, setiap geopark memiliki aturan dan zona yang berbeda untuk menjaga kelestariannya. Beberapa area mungkin membatasi akses untuk penelitian atau konservasi. Kamu disarankan untuk selalu mengikuti panduan dari pengelola setempat dan menggunakan jasa pemandu resmi untuk pengalaman yang aman dan informatif.

Scroll to Top