Sejarah Danau Kelimutu
Sejarah Danau Kelimutu menyimpan kisah menarik tentang bagaimana tiga danau kawah di puncak Gunung Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur, terbentuk melalui rentetan peristiwa geologis dramatis jutaan tahun lalu. Kamu mungkin sudah sering melihat keindahan danau tiga warna ini, tapi tahukah kamu proses panjang di balik terbentuknya? Mari kita telusuri perjalanan sejarah danau vulkanik paling unik di Indonesia ini.
Proses Geologis Pembentukan Danau Kelimutu
Sejarah terbentuknya Danau Kelimutu tidak bisa dilepaskan dari aktivitas vulkanik dahsyat yang terjadi ribuan bahkan jutaan tahun silam . Berdasarkan penelitian para ahli vulkanologi, proses pembentukan danau ini diawali dengan keberadaan Gunung Pra Sokoria, sebuah gunung api raksasa yang kemudian meletus hebat dan meninggalkan kaldera besar.
Dari dalam kaldera Gunung Pra Sokoria tersebut, lahir gunung api generasi kedua yang disebut Gunung Sokoria. Letusan dahsyat Gunung Sokoria kemudian membentuk Kaldera Sokoria. Gunung Kelimutu Tua lahir di atas Kaldera Sokoria, yang kemudian juga meletus dan dari kalderanya melahirkan Gunung Kelimutu Muda.
Gunung Kelimutu Muda yang berbentuk stratovolcano inilah yang meletus berkali-kali hingga membentuk tiga lubang kawah di puncaknya. Ketika gunung meletus, batuan yang menutup kawasan puncak rontok dan meninggalkan bekas lubang. Saat hujan turun, bekas lubang tersebut terisi air dan membentuk tiga danau yang kita kenal sekarang.
Dr. G.G.L. Kemmerling, ahli gunung api Hindia Belanda, dalam bukunya “Volcanoes of Flores” menyatakan bahwa asal-usul dan morfologi Danau Kelimutu memiliki struktur yang rumit. Diduga Gunung Api Kelimutu Lama menjadi kaldera dan kerucut puncak baru terbentuk di dalamnya, yang kemudian sebagian hancur hingga akhirnya dua lubang kawah terbentuk di puncak bagian timur dan satu di bagian barat.
Penemuan oleh Van Such Telen dan Ekspedisi Awal
Sejarah Danau Kelimutu mencatat tahun 1915 sebagai momen penting ketika seorang warga Belanda keturunan Lio bernama Van Such Telen pertama kali menemukan keindahan danau ini. Saat itu, ia memberitahu warga setempat tentang penemuan danau dengan tiga warna berbeda: merah, putih, dan biru.
Menariknya, warga sempat tidak percaya karena kombinasi warna tersebut persis seperti bendera Belanda. Namun setelah melihat langsung, mereka membenarkan penemuan Van Such Telen.
Keindahan Danau Kelimutu mulai dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskannya dalam sebuah tulisan pada tahun 1929. Sejak saat itu, wisatawan asing mulai berdatangan untuk menikmati pesona danau yang oleh masyarakat setempat dipercaya memiliki kekuatan magis. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan alam, tetapi juga para peneliti yang ingin mengungkap fenomena geologis langka ini.
Pada 26 Februari 1992, kawasan Kelimutu resmi ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Alam Nasional , menjamin perlindungan ekosistem unik ini untuk generasi mendatang.
Arti Nama Kelimutu dan Tiga Danau Kawah
Secara etimologi, nama Kelimutu berasal dari dua kata dalam bahasa setempat: “Keli” yang berarti gunung dan “Mutu” yang berarti mendidih . Jadi, Kelimutu dapat diartikan sebagai “gunung yang mendidih”, merujuk pada aktivitas vulkanik yang pernah terjadi di puncaknya.
Ketiga danau kawah tersebut memiliki nama dan kepercayaan masing-masing:
Legenda yang Melatari Sejarah Danau Kelimutu
Masyarakat suku Lio, penduduk asli sekitar Danau Kelimutu, mewariskan legenda menarik tentang asal-usul tiga danau ini. Konon, pada zaman dahulu hidup dua orang sakti bernama Ata Mbupu dan Ata Polo.
Ata Mbupu mendalami ilmu putih dan selalu berbuat kebaikan kepada sesama. Sementara Ata Polo adalah penyihir jahat yang gemar memangsa manusia. Keduanya berteman hingga suatu hari datang dua anak yatim piatu (dalam bahasa setempat disebut Koo Fai dan Nuwa Muri) meminta perlindungan pada Ata Mbupu.
Ata Polo berniat memangsa kedua anak itu, tetapi Ata Mbupu mencegahnya. Mereka kemudian bertarung dahsyat. Saat hampir kalah, Ata Mbupu mengeluarkan kesaktiannya hingga menyebabkan gempa. Ata Mbupu melesat ke dasar bumi membawa kedua anak yatim itu, sementara Ata Polo yang membuntuti ikut tertelan bumi.
Dari tempat mereka lenyap itulah muncul tiga danau: Tiwu Ata Mbupu (tempat Ata Mbupu), Tiwu Koo Fai Nuwa Muri (tempat kedua anak yatim), dan Tiwu Ata Polo (tempat Ata Polo).
Perubahan Warna yang Misterius
Salah satu keunikan Danau Kelimutu yang paling terkenal adalah warnanya yang sering berubah-ubah . Perubahan warna ini terjadi karena pengaruh mekanisme vulkanis di kawasan tersebut. Aktivitas vulkanis mendesak gas-gas dari dalam bumi hingga keluar ke permukaan, bereaksi dengan air danau dan menyebabkan perubahan warna.
Para ilmuwan dari Wesleyan University, Connecticut, yang melakukan survei geokimia menemukan bahwa air di setiap danau memiliki komposisi kimia berbeda. Danau Ata Mbupu adalah danau kawah volkanik sulfat-asam, sementara Danau Ata Polo bersifat asam-garam dan intermediate dalam aktivitas vulkanik.
Perubahan warna yang sering terjadi disebabkan oleh perubahan dalam keadaan oksidasi air. Secara sederhana, fenomena ini mirip dengan bagaimana warna darah terlihat melalui kulit. Ketika kekurangan oksigen, air terlihat hijau. Sebaliknya, saat kaya oksigen, air tampak merah atau kehitam-hitaman.
Badan Geologi mencatat perubahan warna signifikan terjadi pada Mei 2024, ketika Tiwu Ata Polo berubah dari hijau tua menjadi cokelat kehitaman dalam beberapa hari. Perubahan serupa juga terjadi pada Desember 2018-Januari 2019.
Bagi masyarakat setempat, perubahan warna dipercaya sebagai pertanda akan terjadi musibah atau bencana, seperti gempa bumi dahsyat yang melanda Flores tahun 1992. Mereka juga rutin melakukan upacara Pati Ka Du’a Batu Ata Mata, ritual pemberian sesaji kepada roh-roh penghuni danau berupa sirih, pinang, rokok, nasi, daging, dan tuak.
Daya Tarik Wisata dan Pengakuan Dunia
Keindahan Danau Kelimutu pernah diabadikan dalam pecahan uang Rp5.000 rupiah zaman dulu , menunjukkan betapa ikoniknya destinasi ini bagi bangsa Indonesia. Gunung Kelimutu memiliki ketinggian 1.639 mdpl dengan luas total ketiga danau sekitar 1.051.000 meter persegi dan volume air 1.292 juta meter kubik.
Dinding danau yang terjal dengan kemiringan 60-70 derajat dan ketinggian 100-200 meter menambah dramatisnya pemandangan. Dari puncak, kamu dapat menikmati panorama 360 derajat yang mengelilingi Danau Kelimutu, terutama saat matahari terbit yang spektakuler.
Lokasi Danau Kelimutu berada di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai lokasi, kamu bisa terbang ke Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar 65 km menuju Desa Moni, desa terdekat di kaki gunung.
Tiket masuk Taman Nasional Kelimutu sangat terjangkau: Rp5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp150.000 untuk mancanegara, dengan biaya parkir motor Rp5.000 dan mobil Rp10.000 . Fasilitas yang tersedia meliputi toilet, gazebo, area parkir, dan kios makanan.
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya berdiri di puncak Kelimutu, menyaksikan tiga danau dengan warna berbeda dan legenda yang menyertainya? Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu yang juga pecinta keindahan alam Indonesia!
Keindahan Danau Kelimutu mengajarkan kita bahwa alam tidak pernah berhenti bercerita—melalui warna yang berubah, legenda yang hidup, dan sejarah yang terukir dalam jutaan tahun letusan vulkanik. Danau tiga warna ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan warisan geologis dan budaya yang patut kita jaga selamanya. (BAMS)
Baca juga:
- 6 Misteri Gunung Kerinci Yang Masih Berkembang di Masyarakat
- Danau Kaco: Pesona Air Bercahaya, Legenda Mistis, dan Rute
- Desa Penglipuran: Sejarah, dan Keunikan Desa Terbersih di Dunia
- Pura Tanah Lot: Destinasi Wisata Bali dengan Sejarah Spiritual
- Sejarah Jembatan Gentala Arasy Jambi dan Keistimewaannya
Referensi
- https://geologi.esdm.go.id/geoheritage//pages/site/kompleks-danau-tiga-warna-kelimutu
- http://repository.unitomo.ac.id/931/1/Danau%20Lengkap.pdf
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Siapa penemu Danau Kelimutu?
Danau Kelimutu pertama kali ditemukan oleh Van Such Telen, seorang warga Belanda keturunan Lio, pada tahun 1915 .
2. Mengapa warna Danau Kelimutu bisa berubah-ubah?
Perubahan warna terjadi karena aktivitas vulkanik yang mendesak gas dari dalam bumi, bereaksi dengan air danau, dan mengubah komposisi kimianya. Faktor lain seperti curah hujan tinggi dan pelarutan batuan juga mempengaruhi perubahan warna.
3. Apa arti nama Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo?
Tiwu Ata Mbupu berarti danau para jiwa orang tua, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah danau para jiwa muda-mudi, dan Tiwu Ata Polo merupakan danau para jiwa orang yang berbuat jahat semasa hidup.
4. Kapan waktu terbaik mengunjungi Danau Kelimutu?
Waktu terbaik adalah saat matahari terbit (sunrise) sekitar pukul 05.00-06.00 Wita, ketika panorama tiga danau terlihat paling dramatis dengan cahaya keemasan.
5. Bagaimana cara menuju Danau Kelimutu dari Kota Ende?
Dari Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende, kamu bisa menyewa motor atau mobil menuju Desa Moni (sekitar 50-65 km), kemudian melanjutkan perjalanan 15 km ke gerbang masuk Taman Nasional Kelimutu.










