Menyusuri Sejarah Danau Bedugul dari Mitos Bedogol hingga Pura Ikonik

Sejarah Danau Bedugul

Sejarah Danau Bedugul

Sejarah Danau Bedugul menyimpan pesona tersembunyi yang tidak kalah menarik dari keindahan panorama alamnya. Saat kamu mengunjungi kawasan wisata di dataran tinggi Tabanan ini, kamu tidak hanya disuguhi pemandangan danau yang memukau dengan Pura Ulun Danu yang seolah mengapung di atas air, tetapi juga cerita rakyat yang turun-temurun mewarnai keberadaannya. Nama Bedugul sendiri memiliki perjalanan historis yang unik. Kawasan ini bukanlah nama desa atau banjar, melainkan sebuah wilayah di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan . Lalu, bagaimana sebenarnya asal-usul nama ini terbentuk?

Makna Filosofis di Balik Nama “Bedugul”

Para ahli sejarah dan budayawan meyakini bahwa nama Bedugul lahir dari proses akulturasi dan toleransi antarumat beragama yang telah mengakar kuat di Bali sejak zaman dahulu. Istilah “Bedugul” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “Bedug” dan “Kul”.

Kata “Bedug” merujuk pada alat tabuh yang digunakan di masjid sebagai penanda waktu salat bagi umat Islam. Sementara itu, kata “Kul” diambil dari “Kul-Kul”, yaitu alat komunikasi tradisional masyarakat Bali yang fungsinya hampir sama dengan kentongan, biasanya dibunyikan di pura untuk menandai kegiatan keagamaan atau musyawarah desa . Penggabungan dua alat penanda ibadah dari agama yang berbeda ini secara simbolis merepresentasikan kerukunan dan kedamaian yang telah lama terjalin di wilayah tersebut.

Wujud nyata toleransi ini masih dapat kamu saksikan hingga sekarang. Di kawasan Bedugul, berdiri megah Masjid Besar Al-Hidayah atau yang sering disebut Masjid Candi Kuning, dibangun pada tahun 1927 dan berlokasi di atas bukit yang menghadap langsung ke Danau Beratan. Di seberangnya, terdapat kompleks Pura Ulun Danu yang menjadi ikon pariwisata Bali.

Legenda “Bedogol” Sang Raja

Selain versi akulturasi, terdapat legenda lain yang juga dipercaya masyarakat sebagai cikal bakal nama Bedugul. Kisah ini bermula dari seorang raja yang sedang bermeditasi atau mandi di Danau Beratan. Secara tidak sengaja, penduduk setempat melihat sang raja dalam situasi tersebut. Para penduduk pun berseru bahwa “bedogol” sang raja terlihat. Kata “bedogol” dalam konteks ini diyakini merujuk pada bagian tubuh atau situasi memalukan yang tidak sengaja tersaksikan. Dari peristiwa inilah, kata “bedogol” kemudian bergeser pelafalannya menjadi Bedugul.

Asal Mula Terbentuknya Danau Beratan

Masyarakat Bali juga memiliki cerita turun-temurun tentang bagaimana Danau Beratan, yang merupakan nama asli dari danau ini, terbentuk. Legenda ini mengisahkan sekelompok orang yang menemukan tanah subur bekas letusan gunung berapi. Mereka bercocok tanam di lahan tersebut dan mendapatkan hasil panen yang melimpah. Namun, terjadi keajaiban aneh: setiap kali mereka selesai memanen di bagian utara, lahan di selatan sudah tumbuh kembali dan siap dipanen, begitu seterusnya tanpa henti.

Kewalahan menghadapi panen yang tak berkesudahan, mereka mengira Tuhan sedang mempermainkan mereka. Salah seorang dari mereka kemudian menancapkan gelanggang padi (alat pemotong padi) ke tanah sebagai bentuk kekesalan. Ternyata, tanah yang ditancapi tersebut merupakan sumber mata air. Air pun mulai merembes keluar, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya membesar dan membentuk sebuah danau. Penduduk pun terpaksa pindah mencari tempat tinggal baru. Hingga kini, masyarakat setempat percaya bahwa gelanggang padi sakti itu masih ada di dasar danau, berwujud bambu kuning keramat di selatan Pura Ulun Danu.

Pura Ulun Danu

Tidak mungkin membicarakan sejarah Danau Bedugul tanpa membahas Pura Ulun Danu Beratan. Pura ini didirikan oleh I Gusti Agung Putu, pendiri Kerajaan Mengwi, sekitar tahun 1556 Saka atau 1634 Masehi, sebelum ia membangun Pura Taman Ayun . Pura ini didedikasikan untuk memuja Dewi Danu, dewi air, danau, dan kesuburan dalam kepercayaan Hindu Bali . Keberadaan pura di tepi danau ini menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus menjadi sumber spiritual bagi sistem irigasi subak yang mengairi sawah-sawah di Bali.

Daya Tarik dan Pesona Tersembunyi

Saat kamu berkunjung ke kawasan ini, beberapa daya tarik utama akan menyambutmu:

  • Pura Ulun Danu Beratan: Ikon utama yang tampak mengapung di atas air, terutama saat volume air danau tinggi.
  • Udara Pegunungan yang Segar: Berada di ketinggian sekitar 1.200-1.400 meter di atas permukaan laut, kawasan ini menawarkan hawa sejuk yang menenangkan.
  • Kebun Raya Eka Karya: Terletak tidak jauh dari danau, tempat ini cocok untuk rekreasi keluarga dan edukasi flora.
  • Wisata Agro: Kamu bisa memetik stroberi langsung di kebun-kebun petik seperti Cukup Farm atau menikmati keindahan bunga di The Blooms Garden.
  • Danau Kembar: Selain Danau Beratan, kamu juga dapat menjelajahi keindahan Danau Buyan dan Danau Tamblingan yang tidak kalah eksotis.

Fakta Unik yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Tahukah kamu bahwa gambar Pura Ulun Danu Beratan pernah diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 50.000 edisi tahun 2005? Hal ini menunjukkan betapa ikoniknya tempat ini sebagai representasi keindahan Indonesia . Selain itu, kompleks pura ini tidak hanya terdiri dari bangunan Hindu, tetapi juga memiliki stupa Buddha, melambangkan toleransi dan harmoni antarumat beragama yang sudah lama terjalin di Bali.

Dengan segala keindahan alam dan kekayaan sejarahnya, Danau Bedugul membuktikan bahwa Bali tidak hanya memiliki pantai yang memesona, tetapi juga menyimpan permata tersembunyi di dataran tingginya yang menawarkan kedamaian batin dan wawasan budaya yang mendalam. Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu yang sedang merencanakan liburan ke Bali agar mereka juga mengetahui cerita di balik keindahan Danau Bedugul!

Baca juga:

Referensi

  1. Sujarwo, Wawan. (2019). “Bedugul Portrait: An Ethnoecological Study of The Relationship Between Man and The Environment.” Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 7(1), 52-62. DOI: https://doi.org/10.14710/jwl.7.1.52-62
  2. Wikipedia. (2019). “Danau Beratan.” Wikipedia Ensiklopedia Bebas. https://ceb.m.wikipedia.org/wiki/Danau_Beratan

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa perbedaan Danau Bedugul dan Danau Beratan?

Danau Beratan adalah nama asli danau yang terletak di kawasan Bedugul. Masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Danau Bedugul karena lokasinya yang berada di kawasan wisata Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali.

2. Kapan Pura Ulun Danu Beratan didirikan?

Pura Ulun Danu Beratan didirikan oleh I Gusti Agung Putu dari Kerajaan Mengwi sekitar tahun 1634 Masehi atau 1556 Saka, sebelum ia mendirikan Pura Taman Ayun.

3. Siapa Dewi Danu yang dipuja di Pura Ulun Danu?

Dewi Danu adalah dewi air, danau, dan sungai dalam kepercayaan Hindu Bali. Masyarakat memujanya sebagai pemberi kesuburan dan sumber kemakmuran, terutama bagi para petani yang menggantungkan hidup pada sistem irigasi subak.

4. Apa saja mitos yang berkembang di Danau Beratan?

Masyarakat percaya adanya makhluk penjaga danau yang kadang muncul sebagai cahaya misterius pada malam hari. Selain itu, pengunjung dilarang berkata atau berbuat tidak sopan karena dipercaya akan mendapat kesialan. Danau ini juga diyakini sebagai tempat suci yang harus dihormati.

5. Apakah ada penginapan di sekitar Danau Bedugul?

Ya, terdapat berbagai pilihan akomodasi mulai dari hotel, villa, hingga glamping (glamour camping) di sekitar kawasan Bedugul. Beberapa tempat populer seperti Rumah Gemuk menawarkan pengalaman menginap dengan pemandangan langsung ke Danau Beratan.

Scroll to Top