Sejarah Gunung Dempo
Sejarah Gunung Dempo tidak hanya tercatat dalam dokumen geologi sebagai gunung api tertinggi di Sumatera Selatan, tetapi juga terukir dalam ingatan kolektif masyarakat melalui warisan megalitik dan legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Saat kamu melangkahkan kaki ke kawasan dataran tinggi Pasemah, kamu tidak sekadar memasuki wilayah geografis, melainkan juga menyusuri lorong waktu yang menghubungkan peradaban kuno dengan kehidupan masyarakat kontemporer.
Jejak Peradaban Purba di Lereng Dempo
Para arkeolog menyebut kawasan megalitikum di sekitar Gunung Dempo sebagai salah satu yang terluas di Nusantara, dengan perkiraan usia mencapai 3000 hingga 5000 tahun sebelum Masehi. Situs megalitik Pasemah yang tersebar di lereng gunung ini menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat Austronesia menjalin relasi harmonis dengan alam . Peneliti dari BRIN, Rr. Triwurjani, menjelaskan bahwa kawasan ini bukan hanya tempat pemujaan, tetapi juga merupakan permukiman.
Batu-batu besar yang berdiri megah di situs-situs seperti Tanjung Telang, Pagar Gunung, dan tepi Sungai Lematang berfungsi sebagai penanda aksesibilitas pemukiman yang cerdas dalam membaca lanskap . Masyarakat megalitik meyakini bahwa daerah yang tinggi seperti puncak gunung merupakan wilayah sakral, sehingga mereka memilih lereng Dempo sebagai tempat bersemayam dan menjalankan ritual kepercayaan .
Legenda Si Pahit Lidah dan Kutukan untuk Keturunan Si Mata Empat
Dalam setiap pembahasan mengenai sejarah Gunung Dempo, kamu pasti akan menjumpai kisah tentang dua tokoh sakti: Si Pahit Lidah (Serunting) dan Si Mata Empat. Si Pahit Lidah merupakan leluhur Suku Basemah yang mendiami wilayah barat Sumatera Selatan dan Bengkulu, sementara Si Mata Empat adalah nenek moyang Suku Komering dan Lampung.
Permusuhan di antara mereka berlangsung sengit hingga ajal menjemput. Sebelum meninggal, Si Pahit Lidah mengucapkan sumpah bahwa keturunan Si Mata Empat yang menginjakkan kaki di Gunung Dempo akan mengalami kesialan dan kematian. Kutukan ini kemudian membentuk kearifan lokal yang masih dipatuhi hingga sekarang. Para penjaga gunung melarang pendaki dari keturunan Suku Komering dan Lampung untuk mendaki tanpa pendampingan juru kunci atau penduduk asli Pagaralam.
Fenomena ini bukan sekadar mitos belaka. Menurut pengelola Gunung Dempo dan masyarakat sekitar, periode 1980 hingga 2000 menyaksikan berbagai kasus aneh, di mana banyak pendaki Mapala atau keturunan Komering dilaporkan hilang dan beberapa ditemukan tewas. Peristiwa-peristiwa ini semakin mengukuhkan kepercayaan masyarakat terhadap legitimasi kutukan tersebut.
Suku Besemah
Budayawan Besemah, Bastari Suan, menjelaskan bahwa Sukubangsa Besemah atau dalam istilah lokal Besemah Libagh merupakan satu kawasan kebudayaan yang berpusat di sekitar Gunung Dempo . Istilah “Besemah” berasal dari kata “be” (ada) dan “semah” (nama ikan yang hidup di sungai sekitar gunung Dempo dan Hulu Sungai Musi).
Menurut legenda, seorang puyang (leluhur) bernama Atung Bungsu, yang konon merupakan salah satu dari tujuh orang anak ratu Majapahit, menemukan ikan semah di sungai Lematang dan kemudian menamakan kawasan tersebut dengan Besemah. Masyarakat Besemah terkenal sebagai suku pemberani dan penjelajah. Dalam catatan sejarah kolonial, orang-orang Inggris menyebut mereka sebagai Passumah dengan kesan sebagai komunitas yang liar dan gagah berani. Bahkan, The British History in West Sumatra mencatat bahwa pada tahun 1797, bandit-bandit dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna.
Mitos Manusia Harimau
Dalam komunitas pendaki dan masyarakat sekitar, legenda Manusia Harimau telah tersebar luas sebagai penunggu Gunung Dempo . Sosok ini dipercaya tidak akan mengganggu siapapun selama para pendaki menjaga perilaku dan tidak mengusik wilayahnya. Manusia Harimau terkadang menampakkan diri dalam wujud manusia, namun pada kesempatan lain berwujud harimau.
Keberadaan makhluk gaib ini terkait erat dengan tarian Ulu atau silat Harimau, sebuah kesenian tradisional yang mengandung aura magis dan hanya dapat dipelajari oleh orang-orang tertentu yang terpilih . Misteri tentang apakah guru besar yang mengajarkan ilmu ini seorang manusia atau makhluk gaib masih belum terpecahkan hingga saat ini.
Keistimewaan Geologi dan Fenomena Alam
Gunung Dempo yang memiliki ketinggian 3.173 meter di atas permukaan laut ini merupakan stratovolcano dengan tipe batuan andesit hingga basal andesit. Secara fisiografis, gunung ini berada di antara Bukit Barisan dan Pegunungan Gumai.
Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung ini tercatat mengalami erupsi sebanyak 19 kali sejak tahun 1818 hingga 1974 . Erupsi signifikan terjadi pada tahun 1939 dan 1940 yang mengakibatkan banjir lahar dan hujan lumpur. Aktivitas terbaru terjadi pada tahun 2009 dengan ledakan kecil hingga sedang . Per 2024, Gunung Dempo berstatus Level II (Waspada).
Keunikan Gunung Dempo terletak pada keberadaan dua puncak, salah satunya bernama Puncak Api. Puncak utamanya merupakan kawah aktif dengan diameter sekitar seratus meter persegi dan dinding yang terjal . Di ujung barat laut kawah terdapat danau selebar sekitar 400 meter.
Desa Wisata Gunung Dempo
Desa Wisata Gunung Dempo telah terverifikasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta berhasil masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Desa ini menawarkan pengalaman autentik dengan konsep pengelolaan berbasis masyarakat. Kamu dapat menginap di homestay tradisional warga, mencicipi kuliner khas seperti pindang dan olahan kopi, serta belajar memetik dan mengolah teh langsung dari kebunnya.
Tersedia pula program edukatif seperti paket wisata pertanian GREEN TRIP dan paket wisata geologi DEMPO VOLCANO EDU TRIP yang memungkinkan kamu belajar tentang pertanian, lingkungan, dan karakteristik geologi kawasan Gunung Dempo. Berbagai acara televisi seperti Jejak Petualang (2023) dan My Trip My Adventure (2016) juga pernah meliput keindahan dan misteri gunung ini .
Bagi kamu yang tertarik mendaki, perlu diketahui bahwa setiap pekan sekitar 50 hingga 70 pendaki datang ke Gunung Dempo. Registrasi wajib dilakukan untuk mendata para pendaki sebagai antisipasi terhadap kejadian tak terduga.
Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, bagikan kepada teman-teman pencinta alam dan budaya agar mereka juga turut menjaga kearifan lokal saat berpetualang.
Baca juga:
- Sejarah Danau Sipin Jambi: Lokasi, dan Daya Tariknya
- Menelusuri Pesona 3 Danau Bedugul di Dataran Tinggi Bali
- Keunikan Bedugul Bali: Petik Stroberi, Pura Ikonik, dan Terapi Alam
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa hubungan antara sejarah Gunung Dempo dengan situs megalitik di sekitarnya?
Sejarah Gunung Dempo tidak terpisahkan dari keberadaan situs megalitik Pasemah yang berusia ribuan tahun. Masyarakat Austronesia memilih lereng gunung sebagai permukiman dan tempat pemujaan karena meyakini ketinggian sebagai wilayah sakral . Arca, dolmen, dan batu besar yang tersebar di kawasan ini menjadi bukti peradaban yang menjalin relasi harmonis dengan alam.
2. Mengapa keturunan Suku Komering dan Lampung dilarang mendaki Gunung Dempo?
Larangan ini berasal dari legenda Si Pahit Lidah yang mengutuk keturunan Si Mata Empat (leluhur Komering dan Lampung) agar tidak menginjakkan kaki di Gunung Dempo. Masyarakat meyakini kutukan ini berdasarkan pengalaman periode 1980-2000 di mana banyak pendaki keturunan Komering dilaporkan hilang atau tewas saat mendaki tanpa pendampingan.
3. Apa saja jalur pendakian yang tersedia di Gunung Dempo?
Terdapat dua jalur utama pendakian. Pertama, jalur biasa yang dimulai dari Kampung 4 melewati hutan montana dengan vegetasi khas. Kedua, Jalur Rimau yang memiliki anak tangga hingga menjelang puncak dan dikembangkan untuk mendukung cabang olahraga paralayang saat PON di Sumatera Selatan.
4. Bagaimana kondisi terkini aktivitas vulkanik Gunung Dempo?
Gunung Dempo tercatat mengalami erupsi sebanyak 19 kali sejak tahun 1818 hingga 1974 . Erupsi terakhir terjadi pada tahun 2009, dan hingga tahun 2024 gunung ini berstatus Level II (Waspada). Pengunjung disarankan memantau informasi resmi dari PVMBG sebelum melakukan pendakian.
5. Apa saja fasilitas yang tersedia di Desa Wisata Gunung Dempo?
Desa Wisata Gunung Dempo menyediakan berbagai fasilitas seperti area parkir, kafetaria, jalur tracking, kamar mandi umum, kios suvenir, mushola, area outbound, dan spot foto. Pengunjung juga dapat mengikuti program edukasi seperti GREEN TRIP dan DEMPO VOLCANO EDU TRIP.










