Sejarah Candi Prambanan
Sejarah Candi Prambanan bermula pada pertengahan abad ke-9 Masehi, saat Kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah tengah mencapai puncak peradabannya. Rakai Pikatan, raja dari wangsa Sanjaya yang bercorak Hindu, memprakarsai pembangunan kompleks suci ini sekitar tahun 850 M sebagai tandingan megah bagi candi-candi Buddha seperti Borobudur dan Sewu yang telah lebih dulu berdiri. Nama asli candi ini, sebagaimana tercantum dalam Prasasti Siwagrha berangka 856 M, adalah Siwagrha yang dalam bahasa Sanskerta berarti “Rumah Siwa”, menegaskan bahwa dewa Siwa menempati posisi tertinggi di sini.
Latar Belakang Pendirian: Tandingan Wangsa Sanjaya
Sejarah mencatat bahwa pembangunan Candi Prambanan tidak lepas dari dinamika politik dan keagamaan masa itu. Para sejarawan meyakini adanya persaingan antara dua wangsa besar, yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu Saiwa dan wangsa Sailendra penganut Buddha Mahayana. Ketika Rakai Pikatan dari Sanjaya berkuasa, ia berupaya menunjukkan dukungan kerajaan kembali kepada Hindu dengan mendirikan candi agung ini. Proyek pembangunan berlangsung secara bertahap; setelah Rakai Pikatan, para penerusnya seperti Raja Lokapala dan Balitung Maha Sambu terus menyempurnakan dan memperluas kompleks ini.
Salah satu rekayasa teknik yang tercatat dalam prasasti adalah pemindahan aliran Sungai Opak. Arsitek kerajaan kala itu membuat sodetan baru agar sungai tidak menggerus fondasi candi, sekaligus memperluas lahan untuk pembangunan ratusan candi perwara di sekitarnya.
Masa Kemunduran dan Ditinggalkannya Candi
Sekitar tahun 930-an, pusat Kerajaan Medang Mataram dipindahkan secara tiba-tiba ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok. Kamu mungkin bertanya-tanya, apa penyebabnya? Para ahli menduga letusan dahsyat Gunung Merapi yang berulang kali terjadi menjadi faktor utama, ditambah kemungkinan pergolakan politik. Akibat perpindahan ini, Candi Prambanan perlahan terlantar. Tanpa perawatan dan ritual keagamaan, bangunan-bangunannya mulai runtuh, diperparah oleh gempa besar pada abad ke-16 yang merobohkan sebagian besar struktur candi.
Meski terlantar, penduduk Jawa tidak pernah benar-benar melupakan keberadaan reruntuhan ini. Mereka mewariskan cerita dari mulut ke mulut, yang kemudian berkembang menjadi legenda Rara Jonggrang, kisah tentang Bandung Bondowoso yang gagal membangun seribu candi dalam semalam dan mengutuk putri cantik menjadi arca . Arca Durga di bilik utara Candi Siwa hingga kini dipercaya sebagai perwujudan sang putri.
Penemuan Kembali dan Restorasi Besar-besaran
Pada tahun 1733, seorang Belanda bernama CA Lons menemukan kembali reruntuhan ini, meskipun penduduk lokal sudah lama mengetahuinya . Perhatian dunia internasional mulai tertarik ketika Colin Mackenzie, bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, melakukan survei pada masa pendudukan Inggris di Jawa. Sayangnya, pada abad ke-19, banyak batu candi yang dijarah atau digunakan sebagai bahan bangunan oleh warga.
Upaya penyelamatan serius dimulai pada awal abad ke-20. Sejak 1918, Jawatan Purbakala di bawah P.J. Perquin melakukan pemugaran sistematis, dilanjutkan oleh De Haan hingga 1930, lalu Ir. V.R. van Romondt hingga 1942 . Kemudian, para putra Indonesia meneruskan pekerjaan monumental ini. Puncaknya, pada tahun 1953, Candi Siwa berhasil dipugar sepenuhnya dan diresmikan oleh Presiden Soekarno. Proses restorasi terus berlanjut hingga tahun 1993, dengan prinsip bahwa sebuah candi hanya akan dibangun ulang jika minimal 75% batu aslinya masih tersedia.
Pengakuan dunia datang pada tahun 1991 ketika UNESCO menetapkan Candi Prambanan sebagai Situs Warisan Dunia. Gempa dahsyat tahun 2006 sempat merusak sejumlah bangunan, khususnya Candi Brahma, namun pemugaran segera dilakukan dan situs ini kembali dibuka untuk umum.
Arsitektur dan Kompleks Bangunan
Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Arsitekturnya yang tinggi dan ramping mencerminkan ciri khas candi Hindu, berbeda dengan Borobudur yang bercorak Buddha dan bergaya megah melebar . Seluruh kompleks terbagi menjadi tiga halaman konsentris (memusat) yang melambangkan tiga tingkatan alam semesta dalam kosmologi Hindu:
- Bhurloka (Halaman Luar): Dunia fana, tempat manusia masih terikat hawa nafsu.
- Bwahloka (Halaman Tengah): Alam pemurnian, tempat para pertapa dan orang suci.
- Swahloka (Halaman Dalam): Alam para dewa, zona paling suci.
Di halaman dalam inilah terdapat delapan candi utama, dengan Candi Siwa setinggi 47 meter sebagai pusatnya. Dua candi utama lainnya adalah Candi Brahma di selatan dan Candi Wisnu di utara, masing-masing setinggi 33 meter. Di depan ketiga candi utama ini, berjejer tiga candi lebih kecil yang disebut candi wahana, yaitu Candi Nandi (kendaraan Siwa), Candi Garuda (kendaraan Wisnu), dan Candi Angsa (kendaraan Brahma).
Selain itu, terdapat 224 candi perwara yang tersusun rapi dalam empat baris konsentris di halaman tengah, meski kini sebagian besar hanya menyisakan fondasi . Secara total, kompleks ini memiliki 240 candi, tidak seribu seperti legenda yang beredar.
Relief dan Kisah Abadi
Dinding-dinding candi utama dihiasi relief naratif yang memukau. Jika kamu masuk dari sisi timur dan berjalan berputar searah jarum jam (pradaksina), kamu akan mengikuti kisah Ramayana yang dipahat berurutan dari Candi Siwa hingga Candi Brahma. Relief ini mengisahkan perjalanan Rama menyelamatkan Shinta dari cengkeraman Rahwana, lengkap dengan bantuan pasukan kera Hanuman. Sementara itu, pagar langkan Candi Wisnu menampilkan relief Krishnayana, yang mengisahkan masa kecil dan petualangan Prabu Kresna.
Selain cerita epik, terdapat hiasan khas yang disebut “Panil Prambanan”, yaitu motif singa dalam relung yang diapit dua pohon kalpataru (pohon kehidupan), ditemani makhluk surgawi seperti kinnara-kinnari.
Tabel Informasi Candi Prambanan
Hingga saat ini, kompleks ini tidak hanya menjadi tujuan wisata sejarah, tetapi juga pusat kegiatan budaya dan keagamaan. Setiap bulan purnama, kamu dapat menyaksikan Sendratari Ramayana yang megah dengan latar candi yang disinari cahaya lampu.
Jika menurutmu informasi ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya kepada teman atau keluargamu yang juga tertarik dengan sejarah Nusantara. Candi Prambanan bukan sekadar tumpukan batu andesit yang menjulang, melainkan mahakarya abadi yang menuturkan kisah tentang iman, seni, dan peradaban leluhur yang tak lekang oleh waktu.
Baca juga:
- Menelusuri Pesona 3 Danau Bedugul di Dataran Tinggi Bali
- Danau Kelimutu: Keajaiban Danau Tiga Warna di Flores yang Menyimpan Misteri Vulkanik dan Spiritual
- Tanjung Benoa: Surga Watersport dan Harmoni Budaya di Bali Selatan
- Candi Borobudur: Keajaiban Arsitektur Dunia sebagai Pusat Ziarah dan Wisata Buddha
Referensi
- Wikipedia. (2011). Prasasti Siwagrha. Dalam Wikipedia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Syiwagrha
- Departemen Pendidikan Sejarah UPI. (2023, 7 Desember). Proses Pemugaran Kompleks Candi Prambanan. sejarah.upi.edu. https://sejarah.upi.edu/2023/12/07/proses-pemugaran-kompleks-candi-prambanan/
- Wikipedia. (2004). Prambanan. Dalam Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Prambanan&oldid=1191054828
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Siapa sebenarnya yang membangun Candi Prambanan menurut sejarah?
Candi Prambanan dibangun oleh Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya sekitar tahun 850 M, kemudian disempurnakan oleh raja-raja berikutnya seperti Raja Lokapala dan Balitung Maha Sambu dari Kerajaan Medang Mataram Kuno.
2. Benarkah Candi Prambanan memiliki seribu candi seperti dalam legenda?
Tidak. Berdasarkan penelitian arkeologi dan rekonstruksi, kompleks Candi Prambanan terdiri dari 240 candi. Legenda seribu candi lebih terkait dengan nama Candi Sewu di dekatnya dan kisah rakyat Rara Jonggrang.
3. Mengapa Candi Prambanan disebut juga Candi Rara Jonggrang?
Nama ini berasal dari legenda setempat tentang seorang putri cantik bernama Rara Jonggrang yang dikutuk menjadi batu. Arca Durga di bilik utara Candi Siwa diyakini masyarakat sebagai perwujudan sang putri.
4. Apa keunikan arsitektur Candi Prambanan dibanding candi lain?
Keunikannya terletak pada bentuknya yang tinggi dan ramping (khas Hindu), pembagian tiga zona kosmologi (Bhurloka, Bwahloka, Swahloka), serta relief “Panil Prambanan” yang menampilkan motif singa dan pohon kalpataru.
5. Kapan Candi Prambanan diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO?
UNESCO menetapkan Candi Prambanan sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991, bertepatan dengan pengakuan terhadap Candi Borobudur.










